Maheswari, Ida Ayu Putu
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Gerakan Berajah Bareng Berbasis Sesenggak Sasak untuk Mencegah Praktik Merarik Kodek pada Anak Migran di Lombok Febriani, Haniza; Haerani, Nanda; Cindani, Made Widia; Maheswari, Ida Ayu Putu; Rahman, Muhammad Juandika; Nursaptini, Nursaptini
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4b (2025): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4b.4396

Abstract

Merarik Kodek masih menjadi persoalan sosial serius di Lombok, terutama di Desa Gereneng Timur yang didominasi oleh keluarga buruh migran. Kondisi ini dipengaruhi oleh lemahnya pengasuhan akibat migrasi orang tua, tekanan sebaya, rendahnya literasi pendidikan, serta pergeseran makna tradisi yang tidak lagi sesuai dengan adat Sasak. Penelitian ini mengembangkan Women Rise Movement melalui Gerakan Berajah Bareng berbasis Sesenggak Sasak sebagai strategi pencegahan pernikahan dini bagi anak migran. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan spiral analisis Creswell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Merarik Kodek terjadi bukan karena tradisi semata, melainkan akibat dinamika sosial yang menempatkan remaja dalam posisi rentan tanpa kontrol orang tua. Implementasi Berajah Bareng mampu meningkatkan kesadaran kritis remaja terhadap dampak pernikahan dini dan memulihkan fungsi kearifan lokal sebagai pedoman hidup yang menekankan kehati-hatian, pendidikan, dan penghargaan terhadap perempuan. Nilai-nilai Sesenggak Sasak terbukti efektif sebagai media edukasi yang dapat diterima oleh remaja dan masyarakat, sehingga mampu menurunkan kecenderungan Merarik Kodek dan memperkuat orientasi masa depan remaja. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan kultural berbasis kearifan lokal dapat menjadi model efektif dalam pencegahan pernikahan usia anak dan selaras dengan upaya pencapaian SDGs poin 5 tentang kesetaraan gender dan perlindungan anak.