Dhean, Tengku
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

INTENSITAS SERANGAN DAN POLA SEBARAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO (Conopomorpha cramerella) DI KABUPATEN ACEH UTARA: ATTACK INTENSITY AND DISPERSION PATTERN OF THE COCOA POD BORER (Conopomorpha cramerella) IN NORTH ACEH DISTRICT Dhean, Tengku; Hendrival, Hendrival
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 14 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2026.014.2.6

Abstract

Hama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella) merupakan salah satu hama utama yang dapat menyebabkan kehilangan hasil kakao hingga 80% di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji intensitas serangan dan pola sebaran hama penggerek buah kakao pada perkebunan kakao di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 di tiga kecamatan, yaitu Nisam Antara, Matangkuli, dan Tanah Luas, menggunakan metode purposive sampling. Pengamatan dilakukan pada 10% dari total populasi tanaman per petak, dengan 20 buah kakao sebagai sampel per pohon setiap minggu selama empat minggu. Intensitas serangan dihitung berdasarkan skor kategori kerusakan (0–3), sedangkan pola sebaran ditentukan menggunakan nisbah ragam terhadap rata-rata (S²/m), indeks pengerombolan Lloyd (m̅/x̅), serta koefisien Green (Cx). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase serangan berkisar 10,50–19,50% di Nisam Antara (kategori ringan), 34,75–44,25% di Matangkuli (kategori sedang), dan 50,50–63,50% di Tanah Luas (kategori berat). Intensitas serangan masing-masing berkisar 4,58–9,42%, 19,25–28,02%, dan 29,58–39,67%. Berdasarkan ketiga parameter pola sebaran, hama penggerek buah kakao menunjukkan pola sebaran mengelompok (aggregated) di seluruh lokasi pengamatan. Tingginya intensitas serangan dan pola pengerombolan hama diduga berkaitan erat dengan kondisi kebun yang tidak terawat, kurangnya pemangkasan, serta terbatasnya penerapan pengendalian hayati. Temuan ini menegaskan perlunya strategi pengendalian hama terpadu untuk menekan serangan hama dan meningkatkan produktivitas tanaman kakao.