Perkembangan media sosial telah meningkatkan paparan informasi negatif yang memicu munculnya perilaku doomscrolling, khususnya pada Generasi Z sebagai kelompok digital native. Doomscrolling didefinisikan sebagai kebiasaan mengakses dan menggulir konten berita buruk secara berulang dan sulit dihentikan, meskipun menimbulkan dampak emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku doomscrolling pada Generasi Z serta menganalisis dampaknya terhadap kesehatan mental. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, yang dilaksanakan di RW 016 Kelurahan Jakasampurna, Kota Bekasi. Subjek penelitian berjumlah 78 responden Generasi Z berusia 18–25 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner skala Likert, wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan melalui teknik kategorisasi dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku doomscrolling pada Generasi Z terutama dipicu oleh dorongan internal berupa rasa ingin tahu, kebutuhan untuk selalu mengikuti perkembangan informasi, serta ketertarikan emosional terhadap konten negatif. Mayoritas responden berada pada kategori sedang hingga tinggi. Selain itu, doomscrolling terbukti memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan mental, terutama dalam bentuk meningkatnya kecemasan dan stres, kelelahan mental, serta gangguan tidur. Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan informasi negatif secara berulang menciptakan beban kognitif dan emosional yang berkepanjangan, sebagaimana dijelaskan dalam Uses and Gratifications Theory dan Digital Fatigue Theory. Oleh karena itu, perilaku doomscrolling perlu mendapat perhatian serius sebagai faktor risiko penurunan kesehatan mental Generasi Z.