Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Sejarah Religi sebagai Pilar Pembangunan dan Kebijakan Publik Banten Lama Thahirah, Rafa; Nisa, Nadia Khumairatun; Asharika, Diyana Anis; Handriyanti, Amanda Putri; Ananda Chanaya Meutya Lestari; Luthfiyyah Annisa Paramita
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13018

Abstract

Revitalisasi kawasan religi Banten Lama merefleksikan dinamika relasi kekuasaan antara negara dan masyarakat dalam membentuk kesadaran kultural melalui simbol-simbol religius. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana kebijakan revitalisasi tersebut menjadi instrumen hegemoni kultural sebagaimana dijelaskan oleh Antonio Gramsci, di mana kekuasaan bekerja bukan hanya melalui paksaan, tetapi melalui pembentukan persetujuan (consent) dan kepemimpinan moral dalam masyarakat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam kepada pihak Dinas Kebudayaan, akademisi, serta tokoh masyarakat di sekitar kawasan Banten Lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi Banten Lama bukan sekadar proyek pelestarian sejarah, melainkan proses politik yang meneguhkan kekuasaan melalui narasi keagamaan dan kebanggaan identitas lokal. Pemerintah daerah berhasil mengkonstruksi legitimasi moral dengan membingkai revitalisasi sebagai upaya pelestarian warisan Islam Banten, sementara masyarakat memberikan persetujuan simbolik karena melihat revitalisasi sebagai penguatan nilai sejarah dan peningkatan ekonomi lokal. Dalam kerangka teori hegemoni Gramsci, proses ini mencerminkan terbentuknya moral leadership yang menghasilkan konsensus sosial, sekaligus memperlihatkan praktik transformisme dan passive revolution di mana kekuatan masyarakat diserap ke dalam agenda negara. Penelitian ini menegaskan bahwa revitalisasi Banten Lama merupakan bentuk hegemoni kultural yang tampak alami, tetapi sesungguhnya dibangun melalui proses politik yang sistematis, sehingga membuka ruang refleksi terhadap pentingnya partisipasi kritis masyarakat dalam setiap proyek kebudayaan.
Sejarah Religi sebagai Pilar Pembangunan dan Kebijakan Publik Banten Lama Thahirah, Rafa; Nisa, Nadia Khumairatun; Asharika, Diyana Anis; Handriyanti, Amanda Putri; Ananda Chanaya Meutya Lestari; Luthfiyyah Annisa Paramita
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13018

Abstract

Revitalisasi kawasan religi Banten Lama merefleksikan dinamika relasi kekuasaan antara negara dan masyarakat dalam membentuk kesadaran kultural melalui simbol-simbol religius. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana kebijakan revitalisasi tersebut menjadi instrumen hegemoni kultural sebagaimana dijelaskan oleh Antonio Gramsci, di mana kekuasaan bekerja bukan hanya melalui paksaan, tetapi melalui pembentukan persetujuan (consent) dan kepemimpinan moral dalam masyarakat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam kepada pihak Dinas Kebudayaan, akademisi, serta tokoh masyarakat di sekitar kawasan Banten Lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi Banten Lama bukan sekadar proyek pelestarian sejarah, melainkan proses politik yang meneguhkan kekuasaan melalui narasi keagamaan dan kebanggaan identitas lokal. Pemerintah daerah berhasil mengkonstruksi legitimasi moral dengan membingkai revitalisasi sebagai upaya pelestarian warisan Islam Banten, sementara masyarakat memberikan persetujuan simbolik karena melihat revitalisasi sebagai penguatan nilai sejarah dan peningkatan ekonomi lokal. Dalam kerangka teori hegemoni Gramsci, proses ini mencerminkan terbentuknya moral leadership yang menghasilkan konsensus sosial, sekaligus memperlihatkan praktik transformisme dan passive revolution di mana kekuatan masyarakat diserap ke dalam agenda negara. Penelitian ini menegaskan bahwa revitalisasi Banten Lama merupakan bentuk hegemoni kultural yang tampak alami, tetapi sesungguhnya dibangun melalui proses politik yang sistematis, sehingga membuka ruang refleksi terhadap pentingnya partisipasi kritis masyarakat dalam setiap proyek kebudayaan.
Feminisasi Kepemimpinan atau Politik Elit? Analisis Gender terhadap Kepemimpinan Sherly Tjoanda dalam Pembangunan Ekonomi Maluku Utara Ananda Chanaya Meutya Lestari; Ananda Khansa Sayidina; Ika Arinia Indriyani
JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK Vol. 3 No. 2 (2026): JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK (JMIA)  April 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jmia.v3i2.9297

Abstract

analyzes the leadership of Sherly Tjoanda in regional economic development in Maluku Utara using the Feminist Political Economy perspective. In recent years, North Maluku has experienced significant economic growth driven by the expansion of the nickel industry and mineral downstreaming policies. The dominance of the mining sector has made extractive industries the main driver of the regional economy, but it has also created several challenges, including economic dependence on extractive sectors, potential social inequality, and unequal access to development benefits. A gender perspective is important to understand how power relations, networks of political and economic elites, and economic structures influence development policy-making. The Feminist Political Economy perspective emphasizes that the presence of women in leadership positions does not automatically produce gender transformation within political and economic systems. Therefore, economic development should be analyzed not only in terms of economic growth but also in terms of how development benefits are distributed among different social groups, including women and local communities.   Keywords: Women’s leadership, economic development, nickel industry, North Maluku   Abstrak. Analisis kepemimpinan Sherly Tjoanda dalam pembangunan ekonomi di Maluku Utara dengan menggunakan perspektif Feminist Political Economy. Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan yang didorong oleh ekspansi industri nikel serta kebijakan hilirisasi mineral. Dominasi sektor pertambangan menjadikan industri ekstraktif sebagai penggerak utama perekonomian daerah, namun juga menimbulkan berbagai tantangan seperti ketergantungan ekonomi terhadap sektor ekstraktif, potensi ketimpangan sosial, serta perbedaan akses terhadap manfaat pembangunan. Analisis gender menjadi penting untuk melihat bagaimana relasi kekuasaan, jaringan elit politik dan ekonomi, serta struktur ekonomi memengaruhi proses pengambilan kebijakan pembangunan. Perspektif Feminist Political Economy menekankan bahwa keberadaan perempuan dalam posisi kepemimpinan tidak selalu secara otomatis menghasilkan transformasi gender dalam sistem politik dan ekonomi. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi perlu dianalisis tidak hanya dari sisi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari distribusi manfaat pembangunan bagi berbagai kelompok sosial, termasuk perempuan dan masyarakat lokal.