Adji, Iwan Setiawan
Departemen THT-BKL, RSUD Kartini, Karanganyar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Difteri Probabel dengan Kultur Negatif yang Menyerupai Tonsilitis Bakteri pada Anak yang Tidak Divaksinasi dari Pesantren: Tantangan Diagnostik dan Sosio-Kultural Adji, Iwan Setiawan; Rosyita, Fadhilla Jihan; Nabilah, Aisyah; Arifinnia, Salwa Ghaisani Syariifah; Hanief, Sekar Mayang Raisa; Alghozi, Muhammad Hilmi
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16429

Abstract

Diphtheria remains a public health threat in areas with low immunization coverage. Diagnosis is often delayed because initial symptoms resemble common bacterial tonsillitis, especially in unimmunized children due to religious-based vaccine hesitancy. This study aimed to raise awareness of the possibility of diphtheria masquerading as bacterial tonsillitis in unimmunized children, highlight the role of socio-cultural factors in the emergence of cases, and provide clinical recommendations and prevention policies in boarding settings. This study was a case report involving a patient treated at a polyclinic. Data were collected during the patient's treatment and follow-up period. Data were collected from the patient's medical record, family interviews, and clinical photographic documentation. The study identified a 12-year-old boy who had never been immunized who presented with complaints of sore throat, odynophagia, and the formation of a thick pseudomembrane on the tonsils, suggesting diphtheria. Although throat cultures were negative for Corynebacterium diphtheriae, rapid clinical improvement after administration of diphtheria antitoxin and erythromycin supported a probable clinical diagnosis of diphtheria. In conclusion, this case highlights the diagnostic challenges of diphtheria with typical clinical manifestations but negative laboratory results and emphasizes the importance of early empiric therapy based on clinical suspicion, especially in the unimmunized population.Keywords: diphtheria; vaccine hesitancy; immunization; children; boarding school ABSTRAK Difteri tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah. Diagnosis sering tertunda karena gejala awalnya menyerupai tonsilitis bakterial biasa, terutama pada anak yang belum diimunisasi akibat keraguan vaksin berbasis agama (religious-based vaccine hesitancy). Studi ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan difteri tersamar sebagai tonsilitis bakterial pada anak tidak diimunisasi, menyoroti peran faktor sosial-kultural dalam munculnya kasus, dan memberikan rekomendasi klinis serta kebijakan pencegahan di lingkungan berasrama.menggambarkan. Studi ini merupakan laporan kasus yang melibatkan seorang pasien yang ditangani di poliklinik. Data dikumpulkan selama masa perawatan dan kontrol lanjutan. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien, wawancara keluarga, dan dokumentasi foto klinis. Hasil studi telah mengidentifikasi seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang belum pernah diimunisasi datang dengan keluhan nyeri tenggorok, odinofagia, dan terbentuknya pseudomembran tebal pada tonsil yang mengarah pada dugaan difteri. Meskipun hasil kultur tenggorok negatif terhadap Corynebacterium diphtheriae, perbaikan klinis yang cepat setelah pemberian antitoksin difteri dan eritromisin mendukung diagnosis klinis difteri probable. Sebagai kesimpulan, kasus ini menyoroti tantangan diagnostik pada difteri dengan manifestasi klinis khas namun hasil laboratorium negatif serta menegaskan pentingnya terapi empiris dini berdasarkan kecurigaan klinis, terutama pada populasi yang belum diimunisasi.Kata kunci: difteri; vaccine hesitancy; imunisasi; anak; sekolah berasrama
Karsinoma Nasofaring dengan Manifestasi Efusi Otitis Media, Emfisema Paru dan Kejang pada Pria Tidak Merokok dengan Pajanan Asap Biomassa Adji, Iwan Setiawan; Nabilah, Aisyah; Arifinnia, Salwa Ghaisani Syariifah; Hanief, Sekar Mayang Raisa; Rosyita, Fadhilla Jihan; Alghozi, Muhammad Hilmi
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16430

Abstract

Nasopharyngeal carcinoma is a head-neck epithelial malignancy with high prevalence in Southeast Asia. Chronic biomass smoke exposure is also potentially carcinogenic. This study aims to document a case of nasopharyngeal carcinoma in a non-smoker setting exposed to chronic biomass smoke, with pulmonary emphysema and a neurological presentation mimicking brain metastases, and to analyze the pathophysiological mechanisms, diagnostic challenges, and clinical and policy implications in areas with high biomass exposure. This study is a hospital case report, involving a single patient. Data were collected from history taking, physical examination, ancillary tests, and treatment outcomes, which were then analyzed descriptively. The study presents a 65-year-old male, a non-smoking farmer from a rural area, who presented with right-sided hearing loss followed by a single seizure. A CT scan revealed a right nasopharyngeal mass extending into the sphenoid and paranasal sinuses with mastoid effusion, and a hypodense lesion in the temporal lobe consistent with an old infarct. A chest X-ray showed pulmonary emphysema, and no brain metastases were found. Discussion: The combination of nasopharyngeal carcinoma and emphysema in a non-smoker suggests a possible etiological link to daily exposure to firewood smoke in an unventilated home. The patient's seizure manifestations are more likely due to metabolic disturbances than metastasis. In conclusion, this case emphasizes the importance of awareness of the risk of nasopharyngeal cancer and lung disease from biomass smoke exposure in a rural non-smoking population, as well as the urgency of environmentally based prevention.Keywords: nasopharyngeal carcinoma; biomass smoke; non-smoker; pulmonary emphysema; seizures ABSTRAK Karsinoma nasofaring merupakan keganasan epitel kepala-leher yang prevalensinya tinggi di Asia Tenggara. Paparan asap biomassa kronik juga berpotensi bersifat karsinogenik. Studi ini bertujuan untuk mendokumentasikan kasus karsinoma nasofaring dengan latar non-smoker yang terpapar asap biomassa kronik, disertai emfisema paru dan presentasi neurologis yang meniru metastasis otak, serta menganalisis mekanisme patofisiologis, tantangan diagnostik, dan implikasi klinis maupun kebijakan di daerah dengan paparan biomassa tinggi. Studi ini merupakan laporan kasus di rumah sakit, yang melibatkan pasien tunggal. Data dikumpulkan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, serta hasil terapi, yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil studi menampilkan seorang pria 65 tahun, petani non-perokok dari daerah pedesaan, datang dengan keluhan penurunan pendengaran kanan, diikuti kejang tunggal. CT-scan menunjukkan massa nasofaring kanan yang meluas ke sinus sphenoid dan paranasal dengan efusi mastoid, serta lesi hipodens di lobus temporalis yang konsisten dengan infark lama. Foto toraks menunjukkan emfisema paru, dan tidak ditemukan metastasis otak. Diskusi: Kombinasi karsinoma nasofaring dan emfisema pada non-perokok menunjukkan kemungkinan hubungan etiologis dengan paparan asap kayu bakar harian di rumah tanpa ventilasi. Manifestasi kejang pasien lebih mungkin akibat gangguan metabolik daripada metastasis. Sebagai kesimpulan, kasus ini menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko kanker nasofaring dan penyakit paru akibat paparan asap biomassa pada populasi non-perokok di pedesaan, serta urgensi pencegahan berbasis lingkungan.Kata kunci: karsinoma nasofaring; asap biomassa; non-perokok; emfisema paru; kejang