Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FILSAFAT DAN TEOLOGI:: MENEMUKAN PERSENYAWAAN EPISTEMOLOGI MELALUI GAGASAN FILSAFAT KEILAHIAN Djaga, Chrisnasius; Labaka, Albri
Jurnal Teologi RAI Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Teologi RAI - Edisi Desember
Publisher : STT-RAI Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63276/jurnalrai.v2i3.127

Abstract

Philosophy and theology are two disciplines that share a close historical and conceptual relationship, despite employing different approaches to understanding truth and knowledge. This study aims to examine the epistemological dualism between philosophy and theology to identify a convergence point, referred to as divine philosophy. The research employs a qualitative method with a literature-based approach, focusing on a conceptual analysis of the relationship between philosophy and theology from an epistemological perspective. The findings indicate that philosophy and theology often exist in epistemological tension. From an epistemological standpoint, the study emphasizes the integration of reason and faith as two complementary sources of knowledge: reason interprets revelation and empirical experience logically. In contrast, faith provides certainty and moral orientation toward divine truth. Divine philosophy emerges as a point of convergence that bridges rational and transcendental dimensions, proving relevant for critical and reflective theological education. Moreover, philosophy and theology mutually reinforce each other in shaping Christian values: philosophy offers a rational foundation for faith, whereas theology provides spiritual guidance that directs moral and existential action. This approach enables the development of a holistic, rational, reflective, and transformative faith, while also facilitating academic dialogue between contemporary philosophical and theological traditions. 
Iman Di Tengah Era Pots-Truth: Krisis Epistemologi Dalam Teologi Kontemporer Djaga, Chrisnasius
Jurnal Sosial dan Teknologi Terapan AMATA Vol. 5 No. 01 (2026): Maret 2026
Publisher : Politeknik Amamapare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55334/sostekam.v5i1.01

Abstract

Dalam tradisi iman Kristen, kebenaran dipahami sebagai realitas absolut yang bersumber dari Allah yang kekal, tidak berubah, dan melampaui batas ruang serta waktu. Kebenaran tersebut dinyatakan melalui wahyu Allah dalam Kitab Suci sebagai firman-Nya, yang berfungsi sebagai fondasi utama iman Kristen. Sebagai kebenaran ilahi, kebenaran ini bersifat objektif dan tidak ditentukan oleh persepsi personal, pengalaman individual, maupun penafsiran subjektif manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis krisis kebenaran dalam teologi Kristen di tengah konteks era post-truth, khususnya berkaitan dengan perubahan cara manusia memahami, memverifikasi, dan menghayati kebenaran iman. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif-analitis untuk menelaah krisis epistemologi iman Kristen dalam realitas post-truth serta implikasinya bagi teologi kontemporer dan praksis kehidupan gerejawi. Hasil kajian menunjukkan bahwa era post-truth menghadirkan tantangan epistemologis yang serius bagi iman Kristen, terutama melalui pergeseran epistemik yang mengedepankan emosi, preferensi subjektif, dan narasi populer dibandingkan fakta objektif dan otoritas kebenaran yang mapan. Melalui kerangka epistemologi iman Kristen, penelitian ini menegaskan bahwa respons yang memadai terhadap krisis tersebut hanya dapat dilakukan dengan meneguhkan kembali wahyu Allah sebagai dasar pengetahuan iman, tanpa meniadakan peran rasio, tetapi menempatkannya secara kritis dan proporsional. Dengan demikian, iman Kristen tidak berhenti pada pengakuan doktrinal, melainkan diwujudkan dalam praksis iman yang dewasa, transformatif, kontekstual, dan tetap setia pada kebenaran Allah yang mutlak.