Abstract : Pertautan Ilmu dan Kekuasaan: Strategi Ulama Dalam Menavigasi Poros-Poros Politik. This study examines the interrelation between knowledge and power by highlighting the strategies of ulama in navigating political spheres in Indonesia. The focus lies on how religious scholarly authority is utilized to shape, maintain, or negotiate positions within political power structures. The study aims to understand the dynamics between religious knowledge and political interests, as well as their implications for the social legitimacy of the ulama. The research employs a qualitative descriptive approach, involving literature analysis, interviews with religious figures, and case studies of ulama involvement in contemporary politics. The findings indicate that ulama adopt adaptive strategies through moral narratives, scholarly authority, and social networks to sustain their influence amid political competition. In conclusion, knowledge and power are not separate entities but are deeply intertwined in shaping configurations of authority and legitimacy within politico religious society.Keywords : Relation between Knowledge and Power, Ulamas Strategies, Political BlocsAbstract : Pertautan Ilmu dan Kekuasaan: Strategi Ulama Dalam Menavigasi Poros-Poros Politik. Penelitian ini mengkaji pertautan antara ilmu dan kekuasaan dengan menyoroti strategi ulama dalam menavigasi poros-poros politik di Indonesia. Fokus kajian terletak pada bagaimana otoritas keilmuan keagamaan digunakan untuk membentuk, mempertahankan, atau menegosiasikan posisi dalam struktur kekuasaan politik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika relasi antara pengetahuan keagamaan dan kepentingan politik, serta implikasinya terhadap legitimasi sosial ulama. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis terhadap literatur, wawancara tokoh keagamaan, serta telaah kasus keterlibatan ulama dalam politik kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulama menggunakan strategi adaptif melalui narasi moral, otoritas keilmuan, dan jejaring sosial untuk menjaga pengaruh di tengah kompetisi politik. Kesimpulannya, ilmu dan kekuasaan bukan entitas yang terpisah, melainkan saling berkelindan dalam membentuk konfigurasi otoritas dan legitimasi dalam masyarakat politik-religius.Kata Kunci: Relasi Ilmu dan Kekuasaan, Strategi Ulama, Poros Politik