Sya'baniah, Aulia Nur
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

POLA INTERAKSI INDIVIDU DAN KELOMPOK DALAM PEMBENTUKAN SOLIDARITAS KOLEKTIF PADA FILM LASKAR PELANGI Susilowati, Anggi Yus; Sya'baniah, Aulia Nur
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Interaksi Sosiologi Volume 5 Nomor 1 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v5i1.18418

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menginterpretasikan pola interaksi individu dan kelompok dalam film Laskar Pelangi sebagai mekanisme kunci pembentukan solidaritas kolektif. Menggunakan desain kualitatif dengan jenis Analisis Isi Kualitatif, penelitian ini berfokus pada penafsiran makna sosial mendalam dari interaksi verbal dan non-verbal antara karakter utama (Laskar Pelangi) dan kelompok mereka, dipandu oleh kerangka teoritis Interaksionisme Simbolik. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga pola interaksi simbolik utama yang menggerakkan transformasi solidaritas. Pertama, Pola Negosiasi Makna, di mana kelompok secara kolektif menolak makna negatif kemiskinan (simbol sekolah reyot dan ancaman penutupan) dan mengonversinya menjadi simbol perjuangan dan harapan. Kedua, Pola Pertukaran Simbolis Berdasarkan Kompetensi Unik, yang mendorong Solidaritas Organik melalui alokasi status berbasis meritokrasi (Lintang sebagai simbol kecerdasan dan Mahr sebagai simbol imajinasi), menciptakan saling ketergantungan fungsional. Ketiga, Pola Ritual Interaksi dan Penciptaan Simbol Identitas (seperti penamaan "Laskar Pelangi"), yang membangkitkan collective effervescence dan memperkuat ikatan moral mereka. Puncak solidaritas ditunjukkan melalui pengorbanan simbolis Lintang, yang diinternalisasi sebagai mitos pendiri yang memelihara komitmen kolektif. Kesimpulannya, solidaritas Laskar Pelangi adalah produk konstruksi simbolis dan dinamis, bukan sekadar hasil kesamaan nasib. Interaksi simbolik mikro ini berhasil menciptakan The Generalized Other dan Looking-Glass Self yang positif, mengubah kohesi berbasis kebutuhan menjadi komitmen moral tak terpatahkan dan menjadikan solidaritas kolektif mereka sebagai modal kultural efektif untuk melawan hegemoni struktur.