Prabowo, Yuga Bayu
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pro-Kontra Fenomena Jamaah Majelis Sholawat Berjoget: Perspektif Etika Islam Dari Abdurrahman Al-Baghdadi Dan Imam Jauzi Prabowo, Yuga Bayu; Ervani, Dilfam Adisya; Archningtia, Putri Dwi
AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies Vol 7 No 1 (2026)
Publisher : IDRIS Darulfunun Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58764/j.im.2026.7.130

Abstract

Kajian ini membahas fenomena berjoget dalam majelis shalawat melalui studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis (library research). Data diperoleh dari sumber primer, yaitu karya Abdurrahman Al-Baghdadi dan Imam Ibnul Jauzi, serta sumber sekunder seperti jurnal ilmiah, artikel akademik, dan dokumentasi media sosial. Fokus analisis adalah perbandingan pandangan kedua ulama mengenai seni dalam ibadah. Hasil kajian menunjukkan perbedaan perspektif di antara mereka. Imam Ibnul Jauzi menolak gerakan berlebihan dalam ibadah karena dianggap dapat menghilangkan kekhusyukan dan menjadi tipu daya setan. Menurutnya, ibadah harus dilakukan dengan ketenangan dan ketundukan hati sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Sebaliknya, Abdurrahman Al-Baghdadi berpendapat bahwa seni, termasuk ekspresi gerakan dalam sholawat, dapat menjadi sarana dakwah jika tidak melanggar batasan syariat. Ia menilai bahwa selama gerakan tetap beradab, tidak menimbulkan fitnah, dan tidak melalaikan dari dzikir, maka dapat diterima dalam konteks spiritual dan dakwah. Dalam hukum Islam, berjoget dalam ibadah memiliki status hukum yang berbeda tergantung pada konteksnya. Jika dilakukan dengan adab dan tetap menjaga kekhusyukan, maka hukumnya bisa mubah (diperbolehkan). Namun, jika berlebihan dan menjadikannya lebih mirip hiburan daripada ibadah, maka hukumnya menjadi makruh atau bahkan haram. Kesimpulannya, seni dapat menjadi media dakwah, tetapi ibadah harus tetap dijaga kesakralannya. Pandangan yang lebih kuat adalah pendekatan kehati-hatian sebagaimana ditekankan oleh Imam Ibnul Jauzi, sedangkan pendekatan Abdurrahman Al-Baghdadi dapat diterapkan dalam ranah seni dengan batasan yang jelas sesuai nilai-nilai Islam.
Maqasid Al-Shariah and Artificial Intelligence: Unaddressed Issues in Contemporary AI Ethics Studies Prabowo, Yuga Bayu; Ervani, Dilfam Adisya; Archningtia, Putri Dwi
AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies Vol 7 No 1 (2026)
Publisher : IDRIS Darulfunun Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58764/j.im.2026.7.132

Abstract

The rapid advancement of Artificial Intelligence (AI) has intensified ethical debates within contemporary technology studies. Nevertheless, current AI ethics discourse remains predominantly shaped by Western philosophical paradigms such as utilitarianism, deontology, and virtue ethics, which often overlook moral, social, and spiritual dimensions central to non-Western societies, including Islamic ethical traditions. This study aims to map contemporary AI ethics scholarship, critically examine Islamic ethical responses to AI, and develop an evaluative framework grounded in Maqasid al-Shariah. Using a qualitative approach with a Systematic Literature Review (SLR) design, this research analyzes peer- reviewed publications from the last decade drawn from major academic databases. Data analysis is conducted through thematic analysis, comparative analysis, and conceptual synthesis. The findings reveal that Islamic AI ethics studies are still dominated by normative and declarative approaches, with limited operationalization of Maqasid al-Shariah as an evaluative tool, and a notable absence of integrative models connecting Islamic ethics with global AI ethics frameworks. This study contributes theoretically by positioning Maqasid al- Shar??ah as a holistic, value-based, and applicable ethical framework for assessing AI in relation to justice, public welfare, and the protection of human dignity within a global technological context.