Stroke tidak hanya berdampak pada kondisi fisik pasien, tetapi juga menimbulkan masalah psikososial, salah satunya adalah ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan ditandai dengan perasaan kehilangan kendali, putus asa, dan munculnya pikiran negatif yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien. Edukasi berpikir positif merupakan salah satu pendekatan yang diyakini dapat meningkatkan kondisi psikososial pasien stroke. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas edukasi berpikir positif dalam mengurangi ketidakberdayaan psikososial pada pasien stroke. Metode: Penelitian ini merupakan literature review yang dilakukan untuk mengkaji efektivitas edukasi berpikir positif terhadap ketidakberdayaan psikososial pada pasien stroke. Pencarian artikel dilakukan melalui database Google Scholar, PubMed dengan kata kunci: “stroke”, “positive thinking education”, “psychosocial helplessness”, dan “quality of life”. Kriteria inklusi meliputi artikel penelitian berbahasa Indonesia atau Inggris, open access, terbit tahun 2021–2025, dan meneliti intervensi edukasi berpikir positif atau intervensi psikologis terkait pada pasien stroke dengan luaran psikososial. Pencarian awal memperoleh 635 artikel. Setelah skrining judul dan abstrak berdasarkan kriteria inklusi, tersisa 167 artikel. Seleksi lebih lanjut berdasarkan kesesuaian metode dan hasil intervensi menghasilkan 19 artikel kandidat, kemudian dinilai kualitasnya menggunakan JBI Critical Appraisal Tools, dan 10 artikel memenuhi syarat untuk dianalisis. Hasil: Tinjauan menunjukkan bahwa edukasi berpikir positif telah terbukti mengurangi gejala depresi, kecemasan, dan perasaan tidak berdaya pada pasien stroke. Intervensi ini juga meningkatkan penerimaan diri, harga diri, dan kualitas hidup. Efektivitas edukasi akan meningkat jika disertai dengan dukungan keluarga yang memberikan motivasi, apresiasi, dan perhatian emosional. Kesimpulan: Edukasi berpikir positif dapat menjadi strategi keperawatan yang sederhana, murah, dan efektif untuk mengatasi masalah psikososial ketidakberdayaan pada pasien stroke. Intervensi ini akan lebih efektif jika melibatkan keluarga sebagai pendukung utama dalam proses pemulihan pasien