Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang semakin meningkat dan menjadi masalah kesehatan global. Deteksi dini melalui pemeriksaan kadar glukosa darah puasa (GDP) dan glukosa darah 2 jam postprandial (GD2PP) sangat penting, terutama pada kelompok usia produktif yang memiliki risiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara GDP dan GD2PP sebagai prediktor risiko diabetes melitus, serta melihat hubungan kategori kadar glukosa darah dengan risiko diabetes pada usia produktif di Puskesmas Mowewe. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 33 responden dari populasi 50 orang usia produktif, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui pemeriksaan GDP dan GD2PP menggunakan metode Point of Care Testing (POCT). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman’s rho untuk melihat hubungan antar variabel numerik dan uji Chi-Square untuk melihat hubungan kategori kadar glukosa dengan tingkat risiko diabetes. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan antara GDP dan GD2PP (r = 0,884; p = 0,000). Artinya, semakin tinggi kadar glukosa darah puasa seseorang, maka semakin tinggi pula kadar glukosa darah 2 jam postprandial dan meningkat pula risiko diabetes melitus. Selain itu, hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kategori kadar glukosa darah dengan risiko diabetes melitus (p = 0.000), yang berarti terdapat hubungan yang sangat signifikan antara kadar gula darah dengan risiko diabetes. Kesimpulannya, GDP dan GD2PP memiliki keterkaitan erat dan dapat digunakan sebagai prediktor risiko diabetes melitus pada usia produktif. Saran dari penelitian ini adalah agar masyarakat usia produktif melakukan pemeriksaan glukosa darah secara rutin, dan pihak Puskesmas meningkatkan program skrining dini sebagai upaya pencegahan diabetes melitus.