Pengelolaan obat yang efektif dan efisien merupakan komponen penting dalam mendukung layanan kesehatan yang berkualitas, khususnya di tingkat pemerintah daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pengelolaan obat di Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota X berdasarkan indikator standar, mengidentifikasi indikator yang tidak sesuai, menetapkan prioritas masalah menggunakan metode Hanlon. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif evaluatif dengan metode pengumpulan data melalui studi retrospektif terhadap dokumen pengelolaan obat tahun 2024, dokumentasi dan observasi data tahun 2025, serta wawancara mendalam dengan pihak terkait. Data dianalisis berdasarkan standar indikator nasional pengelolaan obat dan analisis isi (content analysis). Skala prioritas masalah ditentukan menggunakan metode Hanlon. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dari 30 indikator yang dianalisis, sebanyak 60% tidak memenuhi standar. Masalah dengan prioritas tertinggi adalah ketidaksesuaian item obat dengan Formularium Nasional (FORNAS), yang berdampak sistemik terhadap indikator lainnya. Penyebab utama masalah meliputi keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan pelatihan mengenai FORNAS, belum adanya seleksi dan validasi FORNAS yang terstandar di tingkat kota, ketidaksesuaian alokasi anggaran dengan kebutuhan, belum optimalnya sistem informasi, tekanan dari penulis resep untuk pengadaan obat non-FORNAS, serta tidak adanya sistem monitoring dan evaluasi secara berkala. Tindak lanjut yang dirumuskan antara lain pengusulan penambahan SDM, pelatihan teknis, peningkatan koordinasi lintas sektor, pengembangan sistem aplikasi yang ada, optimalisasi anggaran, serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi secara rutin.