Peningkatan kebutuhan energi dan tingginya ketergantungan pada sumber energi fosil menjadi tantangan utama dalam mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional. Pemerintah Indonesia melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 mendorong percepatan pengembangan energi surya sebagai sumber energi bersih yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keekonomian pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap pada Gedung Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu langkah strategis efisiensi energi di sektor pemerintahan. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi kasus dengan data konsumsi energi listrik gedung selama satu tahun terakhir, potensi radiasi matahari di Kota Semarang dari simulasi PVSyst, serta data biaya investasi dan pemeliharaan. Analisis keekonomian dilakukan menggunakan empat indikator utama, yaitu Net Present Value (NPV), Benefit-Cost Ratio (BCR), dan Payback Period (PP) dengan periode analisis selama 25 tahun dan tingkat diskonto mengacu pada suku bunga Bank Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa kapasitas optimal PLTS yang dapat dikembangkan sebesar 166,16 kWp menggunakan 248 modul surya Longli 670 Wp dan dua inverter Growatt berkapasitas 36 kW serta 110 kW, dengan potensi produksi energi mencapai 100 MWh per tahun. Investasi awal sebesar Rp2.319.806.200 menghasilkan periode pengembalian modal (PP) selama 8,7 tahun dan nilai Benefit-Cost Ratio sebesar 1,1. Dengan estimasi keuntungan bersih Rp2.336.797.519 selama umur proyek, maka proyek ini dinilai layak dan menguntungkan untuk direalisasikan. Temuan ini mendukung implementasi transisi energi di lingkungan pemerintah daerah sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian target EBT nasional.