This Author published in this journals
All Journal Sawerigading
Farisqi, Rif'an Rio
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Tradisi Cupu Panjala sebagai Narasi Lisan Budaya Gunungkidul: Kajian Memori Kolektif dalam Perspektif Maurice Halbwachs Farisqi, Rif'an Rio; Wulandari, Yosi
SAWERIGADING Vol 31, No 2 (2025): Sawerigading, Edisi Desember 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i2.1632

Abstract

This study aims to examine the Cupu Panjala tradition from the perspective of Maurice Halbwachs' collective memory, in order to understand how community social memory shapes collective awareness of disaster risk. This research used a qualitative approach with field study methods involving non-participant observation, in-depth interviews, and documentation of symbols that emerge during the cupu opening ritual in Mendak Hamlet, Girisekar, Gunungkidul. Data were analyzed through descriptive-interpretive analysis by interpreting the relationship between symbols, oral narratives, and the community's socio-cultural context. The results indicate that the Cupu Panjala tradition functions as a medium for transmitting cultural values, strengthening collective identity, and providing a disaster mitigation strategy based on local wisdom that is more readily accepted by the community than modern approaches. Thus, this tradition has the potential to be integrated into participatory, contextual, and sustainable disaster risk reduction strategies.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi Cupu Panjala dalam perspektif memori kolektif Maurice Halbwachs, guna memahami bagaimana ingatan sosial masyarakat membentuk kesadaran kolektif terhadap risiko bencana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi lapangan yang melibatkan observasi non-partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi simbol-simbol yang muncul dalam ritual pembukaan cupu di Dusun Mendak, Girisekar, Gunungkidul. Data dianalisis melalui analisis deskriptif-interpretatif dengan menafsirkan hubungan antara simbol, narasi lisan, dan konteks sosial budaya masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Cupu Panjala berfungsi sebagai media transmisi nilai budaya, penguatan identitas kolektif, sekaligus strategi mitigasi bencana berbasis kearifan lokal yang lebih mudah diterima masyarakat dibandingkan pendekatan modern. Dengan demikian, tradisi ini memiliki potensi untuk diintegrasikan dalam strategi pengurangan risiko bencana yang bersifat partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan.