Retno Tri Astuti Ramadhana
Universitas Jember

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

IDENTIFIKASI HAMBATAN PADA ORANG AWAM UNTUK MEMBERIKAN RESUSITASI JANTUNG PARU: SCOPING REVIEW I Gusti Ngurah Juniartha; Indriana Noor Istiqomah; Retno Tri Astuti Ramadhana
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i05.p03

Abstract

Memberikan Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh orang terdekat dengan korban henti jantung. Namun, dalam praktiknya RJP seringkali tidak dilakukan atau dilakukan dengan tidak benar. Salah satu faktor penyebabnya adalah adanya hambatan yang menghalangi transfer pengetahuan, keterampilan afektif, dan psikomotorik yang diperlukan untuk melakukan RJP dengan benar. Tinjauan ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan tersebut agar dapat dikembangkan solusi yang efektif. Artikel ini merupakan Scoping Review dengan analisis artikel pada Sciencedirect, PubMed, dan DOAJ dengan database hingga Juni 2025. Artikel yang disertakan mencakup kata kunci hambatan, RJP, henti jantung, RJP oleh orang awam, dan aplikasi smartphone. Artikel yang disertakan mencakup sampel, seperti dari orang awam, mahasiswa, paramedis, respon panggilan, dan kasus yang terekam. Selain itu, studi ini berfokus pada penelitian yang diterbitkan antara 2020 hingga Juni 2025. Analisis artikel yang termasuk dalam tinjauan ini menggunakan Diagram Alur PRISMA 2020 dan kerangka kerja ‘PICOST’ (Population, Intervention, Comparison, Outcome, Study Design, Timeframe). Dari 405 studi yang diskrining, 25 artikel memenuhi kriteria seleksi. Hambatan yang diidentifikasi meliputi kurangnya pelatihan (15), batasan penggunaan aplikasi (5), kurangnya kepercayaan diri (3), dan bias gender (2). Hambatan-hambatan ini terutama terlihat dalam studi yang dilakukan di negara-negara di luar Indonesia. Semua studi yang dianalisis bersifat kuantitatif, oleh karena itu, untuk temuan yang lebih mendalam, pendekatan mixed-methods, termasuk studi kualitatif, dapat diterapkan selanjutnya. Selain itu, pendekatan terhadap pandangan budaya menjadi pertimbangan untuk temuan selanjutnya. Ketika orang awam melakukan RJP, beberapa hambatan dapat memengaruhi kualitas dan hasil pada korban henti jantung. Meskipun hanya empat hambatan yang diidentifikasi dalam studi sebelumnya, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi hambatan-hambatan ini, terutama di negara-negara berkembang.
CKD-Associated Pruritus and Dermatology-Related Quality of Life Among Hemodialysis Patients in Two Indonesian Hospitals: A Cross-Sectional Study Risyda Ma'rifatul Khoirot; Tobi Pitora; Rahmawati Dian Nurani; Eva Riantika Ratna Palupi; Retno Tri Astuti Ramadhana; Sartika Rajagukguk
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 12 No. 3 (2026): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v12i3.1023

Abstract

Background: Chronic kidney disease (CKD) is a progressive condition that often requires maintenance hemodialysis. CKD-associated pruritus (CKD-aP), also known as uremic pruritus, is a distressing itching condition that remains under-recognized and may contribute to physical discomfort, sleep disturbance, psychological burden, and poorer dermatology-related quality of life. Objective: To examine the association between CKD-aP severity and dermatology-related quality of life among chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis. Methods: This descriptive correlational cross-sectional study used purposive sampling. Data were collected from 72 hemodialysis patients at RSU Haji Surabaya and RSUD Sidoarjo during April-May 2019. Eligible participants were aged 18-65 years, received hemodialysis twice weekly, and reported pruritus within the previous month. Patients with primary dermatological conditions such as atopic dermatitis were excluded. CKD-aP severity was measured using the 5-D Itch Scale, and dermatology-related quality of life was measured using the Dermatology Life Quality Index (DLQI). Spearman's rank correlation was used for bivariate analysis. Results: The mean 5-D Itch Scale score was 14.83 +/- 4.224, and the mean DLQI score was 10.69 +/- 4.141. Because higher DLQI scores indicate poorer dermatology-related quality of life, the positive association between 5-D Itch Scale score and DLQI score indicated poorer outcomes with more severe pruritus. CKD-aP severity was significantly associated with dermatology-related quality of life (Spearman's rho = 0.588, p = 0.001, n = 72). Exploratory domain-level analysis suggested that pruritus degree (3.34 +/- 1.02) and duration (3.12 +/- 0.94) were the highest 5-D Itch Scale domains, while DLQI symptoms/feelings (3.11 +/- 1.38) and daily activities (2.41 +/- 1.21) were the most affected quality-of-life domains. Conclusion: This cross-sectional study found a significant moderate, approaching strong, positive association between CKD-aP severity and poorer dermatology-related quality of life among hemodialysis patients. Causality cannot be inferred. The findings support routine pruritus assessment and careful symptom management in hemodialysis nursing care
TANTANGAN SOSIOKULTURAL DALAM IMPLEMENTASI PSC 119: TINJAUAN LITERATUR KONSEPTUAL PADA MASYARAKAT DI WILAYAH PANDALUNGAN Retno Tri Astuti Ramadhana; Arista Maisyaroh; I Gusti Ngurah Juniartha
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p05

Abstract

Ketersediaan layanan Public Safety Center (PSC) 119 belum berbanding lurus dengan tingginya angka pemanfaatan di masyarakat. Berbagai evaluasi sebelumnya terlalu berfokus pada infrastruktur fisik dan mengabaikan dinamika kultural pengguna, khususnya pada entitas masyarakat hibrida seperti di wilayah Pandalungan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tantangan sosiokultural dalam implementasi layanan kedaruratan medis PSC 119 pada masyarakat di wilayah Pandalungan (kawasan Tapal Kuda). Penelitian ini menggunakan desain Conceptual Literature Review. Pencarian data dilakukan melalui basis data Google Scholar dan Garuda, dengan menyeleksi 12 artikel utama (core articles) yang diterbitkan dalam rentang tahun 2021–2025 yang memenuhi kriteria inklusi terkait perilaku kedaruratan, hambatan komunikasi, dan karakteristik budaya Pandalungan. Data diekstraksi dan disintesis secara naratif-konseptual. Hasil tinjauan menunjukkan adanya benturan antara rasionalitas prosedur medis formal dengan perilaku kultural masyarakat. Rigiditas Standar Operasional Prosedur (SOP) call center 119 berlawanan dengan kepanikan psikologis dan nilai komunal (taretan serta gotong royong) masyarakat Pandalungan. Hal ini memicu kecenderungan masyarakat untuk melakukan evakuasi pasien secara mandiri dan spontan dibandingkan dengan mengandalkan birokrasi kedaruratan. Kesenjangan literasi masyarakat mengenai prosedur layanan juga memperkuat resistensi ini. Tantangan implementasi PSC 119 di wilayah Pandalungan berakar pada hambatan sosiokultural. Diperlukan strategi sosialisasi berbasis kearifan lokal dengan melibatkan tokoh agama (kiai) sebagai cultural broker, serta adaptasi protokol komunikasi darurat yang lebih fleksibel.
HAMBATAN BYSTANDER DAN PENGASUH DALAM PENANGANAN PERTAMA KEGAWATDARURATAN PRA-RUMAH SAKIT PADA ANAK DAN BALITA: LITERATURE REVIEW I Gusti Ngurah Juniartha; Riris Chintya Helieniastuti; Retno Tri Astuti Ramadhana; Arista Maisyaroh
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p02

Abstract

Anak-anak dan balita merupakan kelompok populasi yang sangat rentan mengalami kondisi kegawatdaruratan. Masa perkembangan ini ditandai dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan aktivitas eksplorasi motorik yang aktif, namun belum diimbangi dengan kemampuan kognitif yang memadai untuk mengenali dan menghindari bahaya. Hal ini menempatkan anak pada risiko tinggi terhadap berbagai insiden, seperti tersedak (benda asing di jalan napas), tenggelam, luka bakar, keracunan, trauma jatuh, hingga kondisi medis akut seperti kejang demam dan henti napas. Artikel ini merupakan Literature review dengan analisis artikel pada database Sciencedirect, PubMed, dan Ebsco dengan database 2021 hingga April 2026. Penapisan artikel mengikuti diagram alur PRISMA 2020 dan kerangka kerja PICOST untuk mengidentifikasi studi terkait hambatan penanganan kegawatdaruratan pediatrik pra-rumah sakit. Hambatan utama penanganan kegawatdaruratan pra-rumah sakit pada anak dan balita diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama: 1) Hambatan pengetahuan dan keterampilan praktis, yang memicu kepasifan atau tindakan salah yang membahayakan; 2) Hambatan psikologis, berupa kepanikan pengasuh serta respons emosional anak; 3) Hambatan sosiodemografis dan pendidikan, mencakup tingkat pendidikan pengasuh serta disparitas ras/etnis korban; dan 4) Hambatan sistem dan komunikasi, berupa kegagalan koordinasi respons gawat darurat. Penanganan kegawatdaruratan pediatrik fase pra-rumah sakit dipengaruhi oleh hambatan kompetensi, psikologis, sosiodemografis, dan sistem. Diperlukan program pelatihan resusitasi dan pertolongan pertama berbasis komunitas yang lebih terarah, inklusif, serta mempertimbangkan pendekatan budaya guna meningkatkan luaran keselamatan anak.