Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Histopathological Study of Sinonasal and Nasopharyngeal Lesions in Sumber Waras Hospital Jakarta from 2017-2023 Yunita Dewi; Sony Sugiharto
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dmj.v13i4.45913

Abstract

Background: Various non-neoplastic and neoplastic lesions arise from the sinonasal tract and nasopharynx. Polyps are the most frequently reported sinonasal lesions, with a prevalence of 2 %. Nasopharyngeal carcinoma is a common malignancy in Indonesia, with 19.943 new cases. Histopathological examination is the gold standard for diagnosis because management and prognosis vary among different lesions. Objective: The aim is to determine the incidence of various non-neoplastic and neoplastic lesions and to study the histopathological features with regard to age and gender. Methods: This study was a descriptive observational study with a cross-sectional design. The sample was retrieved from the histopathological records in Sumber Waras Hospital Jakarta from February 2017 to December 2023. The inclusion criteria were all patients with sinonasal or nasopharyngeal lesions that have been biopsied and then done histopathological examination at Sumber Waras Hospital Jakarta. The exclusion criteria were incomplete data and patients with histopathological diagnoses of necrotic tissue and inflammation. The sample consisted of 73 patients with a total of 76 cases, as 3 patients had multiple diagnoses. The data collected were later analyzed with SPSS software. Results: Among 73 patients, 54 were males and 19 were females. A maximum number of cases were diagnosed in the age group of 51-60. Among 43 sinonasal lesions, 25 (58,2%) were non-neoplastic and 18 (42%) were neoplastic lesions. Inflammatory polyps (42%) were the most common among the sinonasal lesions. Of 33 nasopharyngeal lesions, there were 2 (6,1%) non-neoplastic and 31 (93,9%) neoplastic lesions. The majority of these were of nasopharyngeal carcinoma (84,8%). Conclusion: Histopathological examination is essential for diagnosing and classifying sinonasal and nasopharyngeal lesions.
PROFIL POLIP KOLOREKTAL DI MRCCC SILOAM HOSPITALS SEMANGGI Claudius Ricco Hartawan; Sony Sugiharto
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.37644

Abstract

Kanker kolorektal merupakan kanker keempat terbanyak dan penyebab kematian kelima terkait kanker di Indonesia. Sebagian kanker kolorektal berasal dari adenoma yang merupakan bagian dari polip kolorektal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil histopatologi polip kolorektal pada pasien yang menjalani kolonoskopi dengan polipektomi di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. Penelitian deskriptif retrospektif dengan desain cross sectional dengan 314 pasien yang dipilih dengan metode total sampling pada tahun 2022–2025 dari data sekunder rekam medis. Rerata pasien berusia 56,39 ± 13,91 tahun dengan rentang usia 21–88 tahun. Terdapat 428 polip dengan 220 polip non-neoplastik dan 208 polip neoplastik. Pada kelompok non-neoplastik mayoritas berjenis polip inflamatorik yang sering ditemukan di rektum (23,9%) dan kolon sigmoid (22,9%), serta sering ditemukan berukuran ≤ 5 mm (78,9%). Selain polip inflamatorik, polip hiperplastik juga sering ditemukan di rektum (22,4%) dan kolon sigmoid (22,4%) dan berukuran ≤ 5 mm (92,5%). Pada kelompok neoplastik mayoritas berjenis adenoma tubular yang sering ditemukan di rektum (17%) dan kolon descendens (16,5%), serta sering berukuran ≤ 5 mm (59,7%). Polip neoplastik dengan low-grade dysplasia paling sering ditemukan dan berukuran ≤ 5 mm. Pada penelitian ini hampir separuh polip yang ditemukan merupakan polip neoplastik dengan potensi untuk bertransformasi menjadi ganas, maka deteksi dini melalui kolonoskopi menjadi sangat penting dalam upaya pencegahan kanker kolorektal.
DISTRIBUSI PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING SERVIKAL BERDASARKAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI Clara Gabrielle Cia; Sony Sugiharto
Ebers Papyrus Vol. 32 No. 1 (2026): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v32i1.38054

Abstract

Pembesaran kelenjar getah bening paling sering terjadi pada daerah leher. Penyebab pembesaran ini sangat beragam, meliputi infeksi oleh berbagai mikroorganisme, proses inflamasi, metastasis, maupun keganasan primer seperti limfoma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi serta etiologi pada pembesaran kelenjar getah bening berdasarkan gambaran histopatologi. Penelitian ini merupakan studi deskriptif cross-sectional yang menganalisis data karakteristik dan hasil histopatologi dari 201 pasien di Rumah Sakit Sumber Waras tahun 2021-2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien terbanyak berjenis kelamin perempuan sebanyak 130 pasien (64,7%), dengan kelompok usia tertinggi adalah 21-30 tahun sebanyak 69 pasien (34,3%). Gambaran histopatologi non neoplastik yang paling sering ditemukan adalah limfadenitis tuberkulosis sebanyak 100 pasien (49,8%), diikuti limfadenitis kronik non spesifik sebanyak 44 pasien (21,9%), lalu limfadenitis granulomatosa sebanyak 29 pasien (14,4%). Pada gambaran histopatologi lesi neoplastik ditemukan metastasis sebanyak 7 pasien (3,5%), limfoma non Hodgkin sebanyak 4 pasien (2,0%), limfoma Hodgkin sebanyak 2 pasien (1,0%). Gambaran histopatologi limfadenitis Kikuchi berdasarkan jenis kelamin terdapat pada perempuan sebanyak 6 pasien (100%), dan gambaran histopatologi limfadenitis toxoplasma serta limfoma Hodgkin masing-masing terdapat pada laki-laki sebanyak 2 sampel (100%). Gambaran histopatologi berdasarkan kelompok usia pada limfadenitis Kikuchi seluruhnya berada pada kelompok usia 11-30 tahun sebanyak 6 pasien, sedangkan pada limfadenitis toxoplasma seluruh sampel yaitu sebanyak 2 sampel berada pada kelompok usia 21-30 tahun.