Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Seni Tari Sebagai Praktik Keagamaan: Pandangan Fikih Terhadap Tarian Zafin dalam Shalawat Muhammad Arfan Ahwadzy
Sharia: Jurnal Kajian Islam Vol 2 No 1 (2025): Sharia: Jurnal Kajian Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Andina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59757/sharia.v2i1.72

Abstract

Tarian zafin dalam pembacaan shalawat menjadi fenomena menarik dalam kajian seni dan agama di Indonesia sebagai media dakwah. Namun, sebagian orang menganggapnya dapat merendahkan harga diri pelakunya. Karena hal tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis tarian zafin dari perspektif fikih Islam, dengan menilai kesesuaiannya dalam konteks syariat dan nilai spiritual. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan normatif, mengacu pada studi bermazhab. Melalui pendekatan ini, teks-teks keagamaan seperti Al-Qur'an, Hadis, dan Kutub at-Turāṡ akan diinterpretasikan dengan mengacu pada pemikiran ulama mazhab, serta menggunakan teori ushul fikih dan kaidah fikih sebagai instrumen untuk menganalisis dan menyimpulkan. Penelitian ini mengulas pandangan ulama fikih mengenai tarian zafin berdasarkan Al-Qur'an, Hadis, dan Kutub At-Turāṡ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan pendapat, mayoritas ulama berpendapat bahwa tari zafin diperbolehkan, dengan dasar hadis Nabi Muhammad Saw. yang menyaksikan tarian kaum Habasyah bersama Aisyah. Ulama menyimpulkan bahwa zafin sah karena tidak mengandung gerakan gemulai (takaṡṡur) atau berayun (taṡannī), yang dilarang dalam Islam. Temuan ini berimplikasi pada pentingnya penyelarasan nilai-nilai budaya terhadap prinsip syariat guna menghindari praktik yang bertentangan dengan pandangan Islam.
Fikih Kebangsaan: Methodology and Foundations for Unity, Tolerance, and National Defense Muhammad Arfan Ahwadzy; Muhammad Daffa Syafiq Nashr ad-Diba’i; Aiman Hakim
Santri: Journal of Pesantren and Fiqh Sosial Vol 7 No 1 (2026): June 2026
Publisher : The Institute of Research and Service Community IPMAFA Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35878/santri.v7i1.2251

Abstract

The development of fiqh in Indonesia reflects post-reform socio-political dynamics and the need to situate Islamic law within a pluralistic nation-state. Existing studies, however, tend to emphasize cultural and normative harmonization without offering a robust theoretical framework grounded in clear epistemological assumptions. This methodological gap shows the difficulty of integrating the classical Islamic intellectual tradition (turāth) with contemporary national demands. This article argues for a conceptual framework of Fikih Kebangsaan (National Fiqh) to bridge turāth with the Indonesian context. Using a qualitative library research approach and conceptual analysis, the study finds that Fikih Kebangsaan rests on three pillars: state-based unity, interreligious tolerance, and the reinterpretation of jihad in the context of national defense. These findings demonstrate the epistemological flexibility of turāth in addressing modern nationhood. This study proposes an initial methodological framework for Fikih Kebangsaan as a normative and operational basis for developing contextual fiqh in Indonesia.