Christian Arisandi Kiding Allo
independent researcher

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Memahami Ulang Perintisan Gereja: Persepsi Pelayan Injil GSJA terhadap Istilah Church Starting dan Church Planting Christian Arisandi Kiding Allo; Yulius Aleng; Eliazar Roi Sulistiono
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/bs5eh837

Abstract

The terms church planting and church starting are often used interchangeably within contemporary missional discourse, particularly in the Assemblies of God Church (Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah, GSJA) in Indonesia. However, developments in theological literature reveal a significant conceptual and missiological distinction between the two. This study explores GSJA pastors’ perceptions of these terms through a qualitative approach employing Focus Group Discussions (FGDs) involving 57 pastors from the East Java Regional Leadership Body 2. The findings show that most participants perceive the two terms as synonymous, referring broadly to the establishment of new churches, while only a few demonstrate conceptual awareness based on literature or ministry experience. Building on these insights, this study proposes a conceptual distinction: church starting as expansion-oriented ministry emphasizing the lower room (programs, facilities, networks), and church planting as evangelism-based mission rooted in the upper room (discipleship and missio Dei). Clarifying these concepts is essential for guiding GSJA’s mission strategies and preventing the reduction of church growth to mere institutional expansion. This article contributes to contemporary missiology by refining terminological understanding and laying a theological foundation for contextual mission practices in Indonesia.   Istilah church planting dan church starting kerap digunakan secara bergantian dalam wacana misi kontemporer, khususnya di lingkungan Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (GSJA) di Indonesia. Namun, perkembangan literatur teologis menunjukkan adanya perbedaan konseptual dan misiologis yang signifikan antara keduanya. Penelitian ini mengeksplorasi persepsi para pendeta GSJA terhadap kedua istilah tersebut melalui pendekatan kualitatif dengan metode Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 57 pendeta dari Badan Pengurus Daerah 2 Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan memandang kedua istilah tersebut sebagai sinonim yang merujuk secara umum pada pendirian gereja baru, sementara hanya sebagian kecil yang menunjukkan pemahaman konseptual berdasarkan literatur atau pengalaman pelayanan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menunjukkan perbedaan konseptual, yakni church starting sebagai pelayanan yang berorientasi pada ekspansi dengan penekanan pada lower room (program, fasilitas, dan jaringan), serta church planting sebagai misi berbasis penginjilan yang berakar pada upper room (pemuridan dan missio Dei). Penjernihan konsep ini penting untuk menuntun strategi misi GSJA dan mencegah reduksi pertumbuhan gereja menjadi sekadar ekspansi institusional. Artikel ini berkontribusi pada misiologi kontemporer dengan memperjelas pemahaman terminologis dan meletakkan dasar teologis bagi praktik misi kontekstual di Indonesia.
Yesus Kristus, sebuah negasi atau revolusi agama: Tinjauan terhadap eksklusivitas wahyu Karl Barth berdasarkan Church Dogmatics Christian Arisandi Kiding Allo
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1098

Abstract

This article explores Karl Barth’s understanding of the exclusive-ty of revelation in the Church Dogmatics, addressing whether understood Jesus Christ should be seen as a negation of the understanding ofr as its re-volution. Barth rejects religion as a means of knowing God, since revelation is given only in Christ. On this basis, any appeal to general revelation as an independent way of knowing God proves invalid. At the same time, Barth affirms that creation stands under the grace of God, which can be un-derstood only as hidden grace in Christ. This dialectic indicates that Jesus Christ does not simply negate religion but transforms it. Religion is no longer regarded as a source of revelation but as a sphere drawn into the horizon of Christ’s grace. The article, therefore, affirms Barth’s Christo-centric exclusivity while also offering a reinterpretation of his position on religion and general revelation.   Abstrak Artikel ini menelaah eksklusivitas wahyu Karl Barth sebagaima-na dipaparkan dalam Church Dogmatics, dengan fokus pada pertanyaan apakah Yesus Kristus merupakan sebuah negasi terhadap agama atau jus-tru sebuah revolusi terhadapnya. Barth menolak agama sebagai jalan pe-ngetahuan tentang Allah atas dasar bahwa penyingkapan Allah hanya ada di dalam Kristus. Dari posisi ini, setiap klaim wahyu umum sebagai sarana otonom untuk mengenal Allah kehilangan validitasnya. Namun, Barth te-tap mengakui realitas ciptaan berada di bawah anugerah Allah dalam arti, ia hanya dapat dipahami sebagai rahmat yang tersembunyi (hidden grace) di dalam Kristus. Dialektika ini menunjukkan bahwa Yesus Kristus bukan sekadar menegasi agama, tetapi juga merevolusinya. Agama tidak lagi berfungsi sebagai sumber wahyu, melainkan dipahami sebagai ruang yang ditarik masuk ke dalam horizon kasih karunia Kristus. Dengan de-mikian, artikel ini menegaskan eksklusivitas kristosentris Barth sekaligus menafsirkan ulang posisinya terhadap agama dan wahyu umum.