The terms church planting and church starting are often used interchangeably within contemporary missional discourse, particularly in the Assemblies of God Church (Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah, GSJA) in Indonesia. However, developments in theological literature reveal a significant conceptual and missiological distinction between the two. This study explores GSJA pastors’ perceptions of these terms through a qualitative approach employing Focus Group Discussions (FGDs) involving 57 pastors from the East Java Regional Leadership Body 2. The findings show that most participants perceive the two terms as synonymous, referring broadly to the establishment of new churches, while only a few demonstrate conceptual awareness based on literature or ministry experience. Building on these insights, this study proposes a conceptual distinction: church starting as expansion-oriented ministry emphasizing the lower room (programs, facilities, networks), and church planting as evangelism-based mission rooted in the upper room (discipleship and missio Dei). Clarifying these concepts is essential for guiding GSJA’s mission strategies and preventing the reduction of church growth to mere institutional expansion. This article contributes to contemporary missiology by refining terminological understanding and laying a theological foundation for contextual mission practices in Indonesia. Istilah church planting dan church starting kerap digunakan secara bergantian dalam wacana misi kontemporer, khususnya di lingkungan Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (GSJA) di Indonesia. Namun, perkembangan literatur teologis menunjukkan adanya perbedaan konseptual dan misiologis yang signifikan antara keduanya. Penelitian ini mengeksplorasi persepsi para pendeta GSJA terhadap kedua istilah tersebut melalui pendekatan kualitatif dengan metode Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 57 pendeta dari Badan Pengurus Daerah 2 Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan memandang kedua istilah tersebut sebagai sinonim yang merujuk secara umum pada pendirian gereja baru, sementara hanya sebagian kecil yang menunjukkan pemahaman konseptual berdasarkan literatur atau pengalaman pelayanan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menunjukkan perbedaan konseptual, yakni church starting sebagai pelayanan yang berorientasi pada ekspansi dengan penekanan pada lower room (program, fasilitas, dan jaringan), serta church planting sebagai misi berbasis penginjilan yang berakar pada upper room (pemuridan dan missio Dei). Penjernihan konsep ini penting untuk menuntun strategi misi GSJA dan mencegah reduksi pertumbuhan gereja menjadi sekadar ekspansi institusional. Artikel ini berkontribusi pada misiologi kontemporer dengan memperjelas pemahaman terminologis dan meletakkan dasar teologis bagi praktik misi kontekstual di Indonesia.