Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IDENTIFIKASI TELUR CACING & CACING DEWASA PADA SAYURAN LALAPAN (KUBIS, SELADA, KEMANGI) Ana Yustika; Aprin Wahyu Wijayanti; Shalihat Afifah Dhaningtyas
EMVIRO Jurnal Ilmiah Penelitian Kesehatan Vol 2 No 2 (2023): EMVIRO Jurnal Ilmiah Penelitian Kesehatan
Publisher : STIKES HAKLI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64857/emviro.v2i2.20

Abstract

Sayuran merupakan jenis makanan penting bagi manusia untuk menjaga kesehatan. Sayuran lalapan adalah sayuran yang biasanya dimakan bersama nasi dan lauk-pauk, serta dihidangkan dalam keadaan mentah. Sayuran lalapan diperkirakan dapat berperan menjadi salah satu sumber infeksi Soil Transmitted Helminth (STH) pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil identifikasi jenis telur cacing dan cacing dewasa pada sayuran lalapan (kubis, selada, kemangi) yang dijual di Pasar Projo Kabupaten Semarang. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Adapun pengambilan sampel penelitian dilakukan secara random sampling. Identifikasi jenis telur cacing dan cacing dewasa pada sayuran lalapan dilakukan dengan melakukan pengamatan secara mikroskopis menggunakan mikroskop binokuler. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa cemaran yang terjadi pada sayuran lalapan di Pasar Projo Kabupaten Semarang disebabkan oleh telur cacing Oxyuris vermicularis, telur cacing tambang, telur cacing Ascaris lumbricoides, dan larva cacing tambang. Telur cacing Oxyuris vermicularis ditemukan pada dua jenis sayuran lalapan, yaitu kubis dan selada. Telur cacing tambang ditemukan pada satu jenis sayuran lalapan, yaitu kubis. Telur cacing Ascaris lumbricoides ditemukan pada semua jenis sayuran, yaitu kubis, selada, dan kemangi. Sedangkan larva cacing tambang ditemukan pada satu jenis sayuran lalapan, yaitu selada. Kata kunci : Ascaris lumbricoides, cacing, Oxyuris vermicularis, sayuran lalapan, Soil Transmitted Helminth (STH)
Immersive Virtual Reality Storytelling to Enhance Speaking Fluency, Narrative Skills, and Engagement in Second Language Education Aprin Wahyu Wijayanti; Maulia Depriya Kembara; Arjulayana Arjulayana
Global Education : International Journal of Educational Sciences and Languages Vol. 1 No. 4 (2024): November: Global Education : International Journal of Educational Sciences and
Publisher : International Forum of Researchers and Lecturers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70062/globaleducation.v1i4.303

Abstract

This research explores the use of Virtual Reality (VR) storytelling in language learning, focusing on its impact on speaking fluency, narrative skills, and student engagement. As traditional language teaching methods often face challenges such as limited speaking practice and learner anxiety, VR offers a promising alternative by creating immersive, interactive environments that encourage active participation. The objective of the study was to investigate the effectiveness of VR storytelling in enhancing these language skills, particularly in second language learners. The study utilized an action research methodology, involving language learners who participated in VR-based storytelling interventions. Pre- and post-assessments, along with surveys and student feedback, were used to evaluate speaking fluency, narrative construction, and overall engagement. The findings indicated significant improvements in all three areas, with students reporting increased confidence, reduced anxiety, and enhanced motivation to engage with the language. The use of VR not only improved grammatical and lexical aspects of speaking but also fostered creativity and coherence in storytelling. These results support the potential of VR to transform traditional language education by providing an engaging, low-pressure environment for learners. The study concludes by recommending the integration of VR in language classrooms to enhance language acquisition and suggests further exploration into long-term effects and content diversity.