Penyuluhan pertanian memegang peran penting dalam membekali petani dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan dalam budidaya tanaman, termasuk dalam pengendalian hama secara terpadu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi penyuluhan pertanian dalam pengendalian hama terpadu pada tanaman cabai rawit di Desa Molas, Kecamatan Bongomeme, Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode grounded theory yang dilakukan terhadap 20 informan petani cabai rawit. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan transkripsi hasil wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi penyuluhan masih belum optimal. Sebanyak 100% informan menyatakan bahwa kunjungan penyuluh hanya dilakukan 1–3 kali dalam sebula dan seminggu sekali, seluruh informan (100%) menyebutkan bahwa materi penyuluhan bersifat teori tanpa pelatihan lapangan maupun pendampingan teknis. Hal ini berdampak pada rendahnya pemahaman petani terhadap penerapan PHT. Seluruh informan menyatakan bahwa media penyuluhan hanya menggunakan slide presentasi tanpa adanya demplot atau simulasi praktik. Akibatnya, 75% petani mengalami kesulitan dalam menerapkan teknik yang diajarkan, dan 70% informan menyatakan kurang memahami teknik PHT karena tidak mendapatkan pengalaman langsung. Selain itu, petani juga menghadapi kendala dalam implementasi PHT, seperti serangan hama yang tetap terjadi (25%), hasil panen yang tidak sesuai harapan (60%), dan metode yang dianggap kurang efektif karena hanya disampaikan secara teori (50%). Melalui proses axial coding, ditemukan tiga kategori utama yang menggambarkan kontribusi penyuluhan (1) Rendahnya kualitas pelaksanaan penyuluhan, (2) Keterbatasan media dan metode, serta (3) Kendala implementasi di lapangan. Berdasarkan hasil axial coding yang telah disusun, core category yang ditemukan dalam penelitian ini adalah: "Kontribusi penyuluhan pertanian dalam pengendalian hama terpadu di Desa Molas masih belum optimal karena metode penyuluhan yang bersifat teoritis, keterbatasan media praktik, dan tidak adanya pendampingan lapangan, sehingga menghambat pemahaman dan implementasi teknik PHT oleh petani." Penelitian ini menekankan peningkatan kualitas penyuluhan melalui praktik lapangan, pelatihan langsung, dan penyediaan demplot untuk mendorong keberhasilan penerapan PHT.