Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Impact of Huyula Social Capital In Sustainable Agricultural Land Management In Lamahu Village Bilato District Gorontalo Regency Nanda Melan Adam; Wawan K Tolinggi; Echan Adam
AGRITEPA: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : UNIVED Press, Dehasen University Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/agritepa.v12i2.9735

Abstract

Purpose : This study aims to examine in depth the impact of Huyula social capital in sustainable agricultural land management in Lamahu Village, Bilato District, Gorontalo Regency. Methodology : This study uses a qualitative approach with ethnographic methods. Results : The results of the study indicate that Huyula practices are able to increase agricultural productivity through collective work, reduce operational costs, and strengthen social relations between farmers. Huyula has also been proven to be a social mechanism that supports the sustainability of efficient and sustainable land management. Findings : The key finding of this study is that Huyula functions not only as a mutual cooperation system, but also as social capital that directly impacts agricultural efficiency, social resilience, and sustainable land management. Novelty : The novelty of this study lies in the disclosure of the specific role of Huyula as social capital that is able to integrate socio-cultural aspects with sustainable agricultural practices. This study offers a new perspective on how local traditions can become strategic instruments in contemporary agricultural development. Originality : The originality of the study is reflected in the focus of the study which places Huyula as a main pillar in the sustainable agricultural system in Lamahu Village. This study contributes new knowledge regarding the relationship between local wisdom, social capital, and agricultural sustainability, which has not previously been studied in depth in the context of the Gorontalo region. Conclusion : The study concludes that Huyula social capital has a significant impact in supporting a sustainable agricultural system. Huyula is able to increase work efficiency, strengthen social solidarity, and maintain the sustainability of land management. This practice not only functions as an agricultural strategy, but also as a means of preserving local culture that remains relevant amidst modernization. Type of Paper : Research article.
KONTRIBUSI PENYULUHAN PERTANIAN DALAM PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA TANAMAN CABAI RAWIT DI DESA MOLAS KECAMATAN BONGOMEME KABUPATEN GORONTALO Wandri Ismail; Wawan K Tolinggi; Irwan Bempah
ZIRAA'AH MAJALAH ILMIAH PERTANIAN Vol 51 No 1 (2026)
Publisher : Pusat Publikasi Jurnal Universitas Islam Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/zmip.v51i1.21215

Abstract

Penyuluhan pertanian memegang peran penting dalam membekali petani dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan dalam budidaya tanaman, termasuk dalam pengendalian hama secara terpadu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi penyuluhan pertanian dalam pengendalian hama terpadu pada tanaman cabai rawit di Desa Molas, Kecamatan Bongomeme, Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode grounded theory yang dilakukan terhadap 20 informan petani cabai rawit. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan transkripsi hasil wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi penyuluhan masih belum optimal. Sebanyak 100% informan menyatakan bahwa kunjungan penyuluh hanya dilakukan 1–3 kali dalam sebula dan seminggu sekali, seluruh informan (100%) menyebutkan bahwa materi penyuluhan bersifat teori tanpa pelatihan lapangan maupun pendampingan teknis. Hal ini berdampak pada rendahnya pemahaman petani terhadap penerapan PHT. Seluruh informan menyatakan bahwa media penyuluhan hanya menggunakan slide presentasi tanpa adanya demplot atau simulasi praktik. Akibatnya, 75% petani mengalami kesulitan dalam menerapkan teknik yang diajarkan, dan 70% informan menyatakan kurang memahami teknik PHT karena tidak mendapatkan pengalaman langsung. Selain itu, petani juga menghadapi kendala dalam implementasi PHT, seperti serangan hama yang tetap terjadi (25%), hasil panen yang tidak sesuai harapan (60%), dan metode yang dianggap kurang efektif karena hanya disampaikan secara teori (50%). Melalui proses axial coding, ditemukan tiga kategori utama yang menggambarkan kontribusi penyuluhan (1) Rendahnya kualitas pelaksanaan penyuluhan, (2) Keterbatasan media dan metode, serta (3) Kendala implementasi di lapangan. Berdasarkan hasil axial coding yang telah disusun, core category yang ditemukan dalam penelitian ini adalah: "Kontribusi penyuluhan pertanian dalam pengendalian hama terpadu di Desa Molas masih belum optimal karena metode penyuluhan yang bersifat teoritis, keterbatasan media praktik, dan tidak adanya pendampingan lapangan, sehingga menghambat pemahaman dan implementasi teknik PHT oleh petani." Penelitian ini menekankan peningkatan kualitas penyuluhan melalui praktik lapangan, pelatihan langsung, dan penyediaan demplot untuk mendorong keberhasilan penerapan PHT.