Aisyah Aisyah
Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia.

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN UN WOMEN MENGATASI KEKERASAN SEKSUAL DI KANADA MELALUI PROGRAM SAFE CITIES AND SAFE PUBLIC SPACES Regina Indah Nuraini; Aisyah Aisyah
Regionalism Global Journal: Jurnal Hubungan Internasional Vol. 1 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Laboratorium Dinamika Sosial Global Hubungan Internasional FISIP UNMUL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/RGJ.v27i1/3643

Abstract

Kekerasan seksual telah muncul sebagai isu global yang menuntut perhatian setiap negara. Karena kejahatan ini dapat terjadi di mana saja dan kepada semua orang, perempuan terpengaruh secara tidak proporsional. Untuk menaklukkan masalah yang berkaitan dengan kekerasan seksual, diperlukan program untuk memecahkan masalah ini. UN Women, sebuah organisasi internasional yang berfokus pada kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan meluncurkan Inisiatif Global Kota Aman dan Ruang Publik Aman untuk melindungi dan membuat ruang publik yang aman bagi semua perempuan untuk melakukan aktivitas mereka tanpa takut menjadi korban kekerasan seksual. Kanada adalah salah satu negara yang mengadopsi program ini. Ini sejajar dengan situasi Kanada sebagai negara dengan tingkat kekerasan seksual tertinggi di Amerika Utara. Namun, karya-karya yang dibuat oleh UN Women tidak cukup signifikan seiring dengan meningkatnya kasus kekerasan seksual. Meningkatnya kasus kekerasan seksual merupakan tanda kesadaran di kalangan orang Kanada untuk melaporkan segala bentuk kekerasan seksual yang mereka alami, karena masalah sebelumnya adalah tingkat pelaporan yang rendah karena orang merasa terancam untuk melapor ke polisi
HAMBATAN UNI AFRIKA DALAM MENGATASI SENGKETA GRAND ETHIOPIAN RENAISSANCE DAM (GERD) DI ETHIOPIA Tina Yuliani; Aisyah Aisyah
Regionalism Global Journal: Jurnal Hubungan Internasional Vol. 1 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Laboratorium Dinamika Sosial Global Hubungan Internasional FISIP UNMUL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/RGJ.v27i1/3648

Abstract

Pada tahun 1956–1964, Ethiopia merencanakan pembangunan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) untuk mendorong pembangunan ekonomi dan menyediakan pembangkit listrik tenaga air. Proyek ini ditujukan untuk mengatasi krisis energi domestik, mengingat lebih dari 65 juta warga Ethiopia tidak memiliki akses listrik. Namun, rencana ini ditentang oleh Mesir dan Sudan. Mesir, sebagai negara hilir yang sangat bergantung pada Sungai Nil, menganggap GERD sebagai ancaman terhadap pasokan airnya. Sudan juga menolak proyek tersebut karena kekhawatiran akan berkurangnya pasokan air dan potensi risiko keamanan. Ketegangan meningkat saat Mesir membawa isu ini ke PBB, sementara Ethiopia menegaskan tidak memiliki kewajiban hukum untuk meminta persetujuan Mesir dalam pengisian bendungan. Sengketa ini kemudian coba diselesaikan melalui Nile Basin Initiative (NBI) pada tahun 1999, namun gagal, menyebabkan Mesir dan Sudan menangguhkan keanggotaannya. Pada tahun 2020, Uni Afrika (AU) turun tangan sebagai mediator, namun hingga kini belum ada kesepakatan yang dicapai. Kegagalan ini mencerminkan adanya hambatan struktural dalam penyelesaian konflik. Penelitian ini menggunakan pendekatan rezim internasional untuk menganalisis mengapa AU belum mampu menyelesaikan sengketa GERD, dengan fokus pada kelembagaan, kepentingan negara, serta kurangnya mekanisme penegakan yang efektif dalam kerangka kerja sama regional