Bidang teknik mesin di perguruan tinggi di Indonesia memiliki persentase partisipasi mahasiswi yang rendah. Ini mengindikasikan bahwa kehadiran perempuan dengan atribut dan peran feminin yang dikaitkan oleh masyarakat, menjadi sebuah keunikan ketika berada di dalam lingkungan yang didominasi oleh laki-laki seperti jurusan teknik mesin. Penelitian bertujuan memahami gendered experience mahasiswi teknik mesin secara mendalam. Tiga mahasiswi teknik mesin minimal tingkat dua menjadi partisipan penelitian ini. Kriteria ini dipilih karena mahasiswi tingkat dua telah memiliki pengalaman yang lebih kaya dalam menjalani perkuliahan. Data dikumpulkan menggunakan wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis. Temuan penelitian mencakup 1.) pertimbangan melanjutkan studi ke teknik mesin; 2.) diskriminasi gender di lingkungan akademik, sosial, dan organisasi mahasiswa; 3.) persepsi menjadi bagian dari kelompok minoritas gender; 4.) ketidaknyamanan emosional akibat diskriminasi gender; 5.) kesadaran akan privilege; 6.) strategi koping dalam menghadapi diskriminasi gender. Temuan khusus mengenai seksisme di tempat Kerja Praktik ditemukan pada salah satu partisipan karena partisipan lainnya belum mendapatkan mata kuliah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun stereotip peran gender tradisional tidak memengaruhi keputusan mahasiswi teknik mesin dalam memilih bidang studi tersebut, diskriminasi gender yang berakar pada stereotip peran gender tradisional tetap menjadi tantangan yang dihadapi oleh para mahasiswi di lingkungan kampus.