Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan besar dalam menyediakan layanan kesehatan yang merata, terutama di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Dalam konteks ini, kapal pengangkut memegang peranan strategis, tidak hanya sebagai moda transportasi tetapi juga sebagai bagian dari infrastruktur esensial dalam sistem kesehatan. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi secara teoretis peran penyediaan kapal pengangkut dalam mendukung distribusi layanan kesehatan di wilayah kepulauan serta merumuskan strategi logistik berbasis laut yang adaptif dan berkelanjutan. Menggunakan pendekatan kajian literatur naratif, penelitian ini menganalisis temuan dari berbagai studi dan dokumen kebijakan dalam tiga aspek: (1) kapal pengangkut sebagai infrastruktur kesehatan, (2) tantangan distribusi logistik kesehatan di wilayah kepulauan, dan (3) strategi integrasi kapal dalam sistem layanan kesehatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa distribusi logistik kesehatan mengalami hambatan signifikan akibat minimnya kapal khusus pengangkut medis, infrastruktur pelabuhan yang terbatas, absennya fasilitas cold chain, serta tidak stabilnya jadwal pelayaran. Untuk mengatasi persoalan ini, diperlukan tiga strategi utama: pengembangan skema Kapal Pengangkut Kesehatan (KPK), penerapan kemitraan pemerintah-swasta (PPP), serta digitalisasi dan pelacakan logistik secara real-time. Integrasi lintas sektor antara transportasi dan kesehatan merupakan kunci dalam memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional. Kajian ini menegaskan bahwa penyediaan kapal pengangkut harus dipandang sebagai bagian integral dari infrastruktur kesehatan masyarakat, yang tidak hanya mendukung efisiensi logistik, tetapi juga menjadi penentu dalam keberhasilan layanan kesehatan di negara kepulauan seperti Indonesia.