Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk konflik yang terjadi dalam perencanaan kebutuhan pendidik di era digital, khususnya di SDN 1 Tri Mekar Jaya, Bandar Negeri Suoh, Lampung Barat. Tujuan utama penelitian adalah menggali faktor-faktor penyebab konflik antar pemangku kepentingan pendidikan, seperti kepala sekolah, dinas pendidikan, guru, dan masyarakat, yang memengaruhi proses perencanaan tenaga pendidik. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk mendapatkan data yang komprehensif dan mendalam. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan pendekatan Miles dan Huberman, dengan dukungan analisis isi, wacana, dan interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan kualitas pendidikan di era digital dipengaruhi oleh tiga faktor utama: keterbatasan akses teknologi, minimnya pelatihan teknologi bagi pendidik, serta lemahnya manajemen konflik antar aktor pendidikan. Manajemen konflik yang tidak optimal menyebabkan ketidaksepahaman dalam pengambilan keputusan, sementara pendekatan kolaboratif dinilai efektif dalam menyusun perencanaan pendidikan yang kontekstual dan inklusif. Dengan demikian, peningkatan kapasitas guru, infrastruktur teknologi, serta pelibatan semua pihak secara aktif menjadi kunci untuk mengatasi ketimpangan pendidikan di wilayah pedesaan.