Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran Bahasa Isyarat dalam Membangun Kehamornisan Antar Anggota Keluarga dengan Penyandang Tunarungu (Perspektif Drama Korea Elsa Fitri Ali; Azzahra Bintang Rahmadani; Abdur Razzaq; Muhamad Yudistira Nugraha
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.811

Abstract

interaksi simbolik berasal dari dua aliran yaitu mahzab chicago dan mahzab lowo. Interaksi simbolik biasanya digunakan oleh penyandang tunarungu yaitu dengan komunikasi non-verbal atau bahasa isyarat. Tunarungu ialah gangguan pendengaran yang bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kelainan bawaan, cedera atau trauma pada telinga, infeksi atau penyakit, penuaan, dan paparan suara keras yang berkepanjangan. Banyak penyandang tunarungu yang tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga atau teman, dikarenakan kekurangan yang dimiliki, mereka mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa yang mereka ketahui dengan gerakan tangan atau tubuh yang diharapkan bisa di mengerti oleh anggota keluarga atau teman mereka supaya tidak ada kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Kita bisa mengetahui seberapa pentingnya bahasa isyarat dari drama korea “Twinkling Watermelon” karena bahasa ini digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain, seperti si pemeran utama dalam drama Korea ini yang menggunakan bahasa isyarat untuk membantu agar orang tuanya di masa lalu bisa berkomunikasi dan saling memahami perasaan satu sama lain sehingga mereka dapat menciptakan perasaan yang dalam satu sama lain.