Oksfriani Jufri Sumampouw
Universitas Sam Ratulangi, Manado

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Heat Strain pada Tenaga Kerja Bongkar Muat di Pelabuhan Kota Manado Yekaterina Sipa Danduru; Oksfriani Jufri Sumampouw; Fima Lanra Fredrik G. Langi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1320

Abstract

Pekerja yang terpajan oleh temperatur yang tinggi selama bekerja dalam ruangan dengan lingkungan panas atau bekerja di ruang terbuka dengan cuaca yang panas merupakan suatu keadaan yang sangat berpotensi menimbulkan bahaya. Salah satu pekerjaan yang terpapar dengan panas matahari secara langsung adalah Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di pelabuhan. Aktivitas bongkar muat yang dilakukan di bawah paparan sinar matahari langsung dapat meningkatkan risiko terjadinya heat strain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran heat strain pada TKBM di Pelabuhan Kota Manado. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh TKBM yang hadir dan bersedia menjadi responden dengan total 126 pekerja. Data usia diperoleh melalui wawancara, denyut nadi diukur menggunakan pulse oximeter dan heat strain dihitung menggunakan Physiological Strain Index (PSI) yang didasarkan pada pengukuran suhu tubuh dan denyut nadi sebelum dan saat bekerja. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai rata-rata dari heat strain yaitu 3,186 dengan nilai minimum 1,1 dan maksimum 5,4. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa TKBM di Pelabuhan Kota Manado mengalami peningkatan denyut nadi dan suhu tubuh selama melakukan aktivitas bongkar muat, yang mencerminkan adanya heat strain pada sebagian besar pekerja.
Hubungan Antara Postur Kerja Dengan Gangguan Muskuloskeletal Pada Pengemudi Angkutan Umum Di Minahasa Utara Apricillia Veronika Paulin Damopoli; Febi Kornela Kolibu; Oksfriani Jufri Sumampouw
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2205

Abstract

Postur kerja yang buruk dan gangguan muskuloskeletal (Musculosceletal Disorders/ MSDs) merupakan dua hal yang saling berkaitan. Postur kerja yang tidak ergonomis, seperti duduk dalam waktu lama dan gerakan tubuh berulang, dapat menimbulkan tekanan pada otot dan sendi, sehingga memicu nyeri pada punggung, leher, dan bahu. Aktivitas mengemudi angkutan umum sering bekerja dalam posisi duduk statis dalam waktu yang lama, dengan gerakan tubuh yang terbatas dan terkadang posisi duduk yang tidak ergonomis (misalnya sandaran punggung kurang mendukung, setir terlalu jauh atau terlalu dekat, atau pedal yang memaksa posisi kaki tertentu). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara postur kerja dengan gangguan muskuloskeletal pada pengemudi angkutan umum di Minahasa Utara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik dan rancangan studi potong lintang. Data dikumpulkan pada bulan Mei-Juli 2025 melalui observasi langsung terhadap 53 orang pengemudi yang dipilih menggunakan teknik total populasi. Penilaian postur kerja dilakukan menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA), sedangkan gangguan muskuloskeletal diukur dengan Nordic Body Map (NBM). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pengemudi memiliki postur kerja dengan tingkat risiko tinggi hingga risiko sangat tinggi serta mengalami gangguan muskuloskeletal kategori sedang hingga tinggi. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan signifikan antara postur kerja dan gangguan muskuloskeletal (r = 0,703; p = 0,000). Dapat disimpulkan bahwa semakin tidak ergonomis postur kerja pengemudi, maka semakin tinggi pula gangguan musculoskeletal yang dialami.