Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana remajaperempuan membentuk dan menegosiasikan identitas sosialmereka melalui konten yang diunggah di TikTok, khususnyabagi mereka yang memilih mengenakan pakaian crop top. Dalam masyarakat Indonesia yang religius dan menjunjungtinggi nilai kesopanan, penggunaan crop top sering kali memicukontroversi. Namun, bagi sebagian remaja, crop top merupakansimbol kebebasan, ekspresi diri, dan keberanian menampilkanidentitas yang autentik. Menggunakan pendekatan kualitatifdengan metode fenomenologi transendental, penelitian inimenggali pengalaman subjektif enam content creator remajayang aktif di TikTok. Teori yang digunakan adalah self-categorization theory yang dikombinasikan dengan konsep, untuk menjelaskan bagaimana individu mengategorikan diri kedalam komunitas digital yang mendukung nilai-nilai ekspresidiri yang serupa. Data dikumpulkan melalui wawancaramendalam, observasi konten TikTok, dan dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan crop top tidakhanya didasarkan pada aspek estetika, tetapi juga merupakanbentuk afirmasi terhadap nilai personal seperti kenyamanan, kepercayaan diri, dan kejujuran terhadap diri sendiri. Dalam komunitas TikTok yang mereka ikuti, crop top dianggap wajardan bahkan menjadi simbol penerimaan sosial. Namun, para informan juga menunjukkan kesadaran terhadap nilai-nilaireligius dan sosial di lingkungan mereka, sehingga konstruksiidentitas dilakukan dengan refleksi dan penyesuaiandiri.Penelitian ini menegaskan bahwa media sosial sepertiTikTok menjadi ruang penting dalam pembentukan identitassosial remaja, di mana ekspresi visual tidak hanyamerepresentasikan kepribadian, tetapi juga menjadi bentukkomunikasi simbolik dalam konteks tarik-menarik antarabudaya populer dan nilai lokal.