Kajian tentang jiwa (al-nafs) dalam pemikiran Islam merupakan topik penting yang telah dibahas secara luas oleh para pemikir dari berbagai disiplin, mulai dari tafsir, filsafat, hingga tasawuf. Jiwa dipahami bukan hanya sebagai aspek rohaniah yang menghidupkan tubuh manusia, tetapi juga sebagai pusat kesadaran moral, spiritualitas, dan identitas eksistensial manusia. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis anatomi konseptual jiwa dalam khazanah pemikiran Islam klasik dari perspektif Al-Qur'an dan Sunnah, filsafat Islam, serta tasawuf. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), yaitu menganalisis literatur primer dan sekunder yang relevan seperti karya Al-Kindī, Al-Fārābī, Ibn Sīnā, Al-Ghazālī, dan pemikir tasawuf lainnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun pendekatan terhadap jiwa berbeda—filsafat lebih menekankan rasionalitas dan struktur metafisis, sementara tasawuf lebih menekankan pengalaman spiritual dan penyucian diri—namun keduanya memiliki titik temu dalam memandang jiwa sebagai elemen sentral dalam pembentukan kepribadian dan kesempurnaan manusia. Jiwa dalam Islam digambarkan memiliki perjalanan bertahap, dari nafs ammarah (jiwa yang condong pada kejahatan), menuju nafs lawwāmah (jiwa yang sadar dan mencela diri), hingga nafs muṭma’innah (jiwa yang tenang dan diridai Allah). Temuan ini menunjukkan bahwa konsep jiwa dalam Islam sangat relevan dalam menghadapi tantangan kontemporer seperti krisis identitas, degradasi moral, dan kekosongan spiritual. Oleh karena itu, aktualisasi konsep tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa) sangat penting tidak hanya dalam tataran teoretis, tetapi juga dalam praksis kehidupan Muslim modern sebagai upaya membangun karakter yang utuh dan berintegritas.