Lilis Suryani
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kejadian Tuberkulosis Paru Pada Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas Nova Heroine; Nani Sari Murni; Lilis Suryani; Debby Utami Siska Ariani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2206

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan global yang masih menjadi perhatian serius. Di Indonesia, TB masih menjadi permasalahan kesehatan utama. Berbagai faktor diketahui berhubungan dengan kejadian TB paru, di antaranya adalah faktor gizi, lingkungan, dan perilaku.Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah status gizi, di mana malnutrisi, termasuk stunting, telah terbukti meningkatkan kerentanan terhadap infeksi TB paru. Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama pada kelompok usia rentan. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa kejadian TB paru tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis, tetapi juga oleh faktor lingkungan fisik rumah, kondisi sosial ekonomi, dan perilaku keluarga. Tujuan penelitian ini adalah dianalisisnya kejadian Tuberkulosis Paru pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain case control. Kelompok kasus terdiri dari 30 pasien TB Paru yang masih menjalani pengobatan dan kelompok control adalah 30 responden yang tidak menderita TB Paru. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Juni - Juli 2025. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara status gizi (p = 0,011), luas ventilasi (p = 0,004), tidak ada hubungan antara riwayat kontak (p = 1,000), kebiasaan merokok (p = 0,579), pendidikan (p = 1,000), dan pendapatan (p = 1,000) dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas tahun 2025. Disarankan kepada puskesmas untuk melakukan penyuluhan secara terpadu kepada warga masyarakat yang jarang ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Strata Kader Posyandu Melalui Penilaian 25 Kecakapan Dasar Di Puskesmas Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas Erlina Febriyanti; Nani Sari Murni; Lilis Suryani; Debby Utami Siska Ariani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2260

Abstract

Posyandu merupakan unit pelayanan kesehatan berbasis masyarakat yang memiliki peran vital dalam system kesehatan primer di Indonesia. Kader Posyandu direkrut dari masyarakat lokal dan bertindak sebagai ujung tombak kegiatan kesehatan seperti deteksi dini penyakit, edukasi gizi, pemantauan pertumbuhan, serta pencatatan data pelayanan. Banyak kader belum sepenuhnya memahami atau menguasai kecakapan teknis maupun interpersonal yang diperlukan dalam konteks pelayanan berkualitas. Keaktifan kader sangat bergantung pada tingkat pengetahuan dan motivasi mereka. Puskesmas Megang Sakti, Kabupaten Musi Rawas, memiliki 28 Posyandu dengan total 264 kader, namun para kader tersebut belum dilakukan stratifikasi. Hal ini disebabkan para kader belum pernah mengikuti pelatihan 25 kecakapan dasar sehingga belum dapat dilakukan penilaian pada 25 kecakapan dasar kader Posyandu tersebut. Tujuan penelitian ini adalah dianalisisnya strata kader posyandu melalui penilaian 25 kecakapan dasar di Puskesmas Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader posyandu di Puskesmas Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas dengan jumlah sampel sebanyak 72 orang yang diambil secara proporsional random sampling. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Juli 2025. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara pengalaman menjadi kader (p = 0,002), tidak ada hubungan antara usia (p = 0,658), tingkat pendidikan (p = 0,249), pengetahuan (p = 0,807), dan motivasi (p = 0,303) dengan strata kader posyandu melalui penilaian 25 kecakapan dasar di Puskesmas Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas tahun 2025. Variabel yang paling dominan adalah pengalaman kader. Disarankan kepada kader posyandu sebagai subjek aktif dalam melakukan tindakan pelayanan.
Analisis Berbagai Faktor yang Berhubungan dengan Keterampilan Bantuan Hidup Dasar pada Perawat Puskesmas Pengandonan dan Puskesmas Betung Tahun 2026 Syahril Efendi; Nani Sari Murni; Lilis Suryani
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.13697

Abstract

Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan kompetensi esensial bagi perawat di fasilitas pelayanan kesehatan primer dalam penanganan kegawatdaruratan henti jantung, namun berbagai studi menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan keterampilan praktis perawat dalam pelaksanaannya, khususnya di wilayah dengan akses rujukan yang terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor yang berhubungan dengan keterampilan perawat dalam melakukan tindakan BHD di Puskesmas Pengandonan dan Puskesmas Betung, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, tahun 2026. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap seluruh perawat pelaksana berjumlah 31 orang yang diambil secara total sampling. Variabel independen meliputi umur, jenis kelamin, lama kerja, pengetahuan, sikap, motivasi, pelatihan, dan kelengkapan sarana prasarana, sedangkan variabel dependen adalah keterampilan perawat dalam melakukan BHD yang dinilai melalui lembar observasi berbasis SOP. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden (80,6%) terampil dalam melakukan tindakan BHD. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan antara umur (p=0,642), jenis kelamin (p=0,159), dan lama kerja (p=0,654) dengan keterampilan perawat, sedangkan sikap (p=0,038; PR=2,212), motivasi (p=0,043; PR=1,636), dan pelatihan (p=0,026; PR=1,826) terbukti berhubungan signifikan, sementara pengetahuan tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (p=0,067). Variabel kelengkapan sarana prasarana tidak dapat dianalisis lebih lanjut karena seluruh responden (100%) menyatakan sarana prasarana kurang lengkap. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa motivasi dan pelatihan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan keterampilan perawat, dengan motivasi sebagai variabel paling dominan (OR=0,088). Model regresi yang diperoleh mampu memprediksi keterampilan perawat sebesar 45,5%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan motivasi kerja dan peningkatan akses pelatihan BHD secara berkelanjutan perlu menjadi perhatian utama dalam upaya meningkatkan keterampilan perawat di fasilitas pelayanan kesehatan primer.