Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Distribusi Spasial dan Luasan Kelas Kemiringan Lereng Kabupaten Tapanuli Tengah Menggunakan Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS) Sri Aningsih; Alfikri Dwi Mauluda; Shofia Ummi; Rizty Maulida Badri
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12765

Abstract

Kemiringan lereng merupakan salah satu parameter topografi yang berperan penting dalam berbagai analisis geospasial, seperti perencanaan tata ruang, pengelolaan sumber daya alam, dan pemodelan kebencanaan. Informasi mengenai distribusi kemiringan lereng diperlukan sebagai data dasar dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis spasial. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan distribusi kelas kemiringan lereng serta menghitung luas dan persentase setiap kelas lereng di Kabupaten Tapanuli Tengah menggunakan Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS) dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Data DEMNAS diolah menggunakan perangkat lunak QGIS melalui tahapan pemotongan data berdasarkan batas administrasi, ekstraksi kemiringan lereng (slope analysis), reklasifikasi menjadi lima kelas kemiringan, konversi raster ke poligon, serta perhitungan luas setiap kelas lereng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki karakteristik topografi yang didominasi oleh lereng sangat curam (>40%) dengan luas 87.301,88 ha (37,36%), diikuti oleh lereng agak curam (15–25%) seluas 55.095,64 ha (23,58%) dan lereng curam (25–40%) seluas 49.897,88 ha (21,35%). Sementara itu, lereng datar (0–8%) hanya mencakup 7.695,91 ha (3,29%) dari total wilayah analisis. Distribusi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki morfologi berbukit hingga pegunungan. Peta kemiringan lereng beserta informasi luas setiap kelas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai data dasar spasial (baseline geospatial dataset) dalam berbagai analisis lanjutan, seperti pemodelan kerawanan banjir, tanah longsor, evaluasi kesesuaian lahan, dan perencanaan pembangunan wilayah.