Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Stres Kerja pada Perawat di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus Wiwik Dewi Mulyani; Muhammad Purnomo; Anny Rosiana Mashitoh
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3828

Abstract

Latar Belakang: Stres kerja merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh perawat dan dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan mental, produktivitas, dan kualitas pelayanan kepada pasien. Berbagai faktor dapat memengaruhi tingkat stres kerja pada perawat yaitu, beban kerja yang berlebihan, lingkungan kerja yang tidak kondusif, konflik peran ganda, pola ketenagaan yang tidak tersusun rapi, konflik interpersonal, kurangnya dukungan sosial dan gaji yang tidak sesuai. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi stres kerja pada perawat di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus. Metode: Desain penelitian menggunakan deskriptif analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus pada bulan Agustus 2025, jumlah sampel sebanyak 114 responden dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup yang sudah diuji validitas dan reliablitasnya, yang hasilnya dianalisis menggunakan Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat stres kerja memiliki hubungan signifikan dengan beban kerja (p=0,001< 0,05) dan gaji (p=0,000< 0,05). Sedangkan lingkungan kerja, konflik peran, pola ketenagaan, komflik interpersonal, dan dukungan sosial tidak memiliki hubungan signifikan dengan tingkat stres kerja dengan nilai p >0,05. Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dan gaji dengan tingkat stres kerja. Sementara itu, lingkungan kerja, konflik peran, pola ketenagaan, konflik interpersonal, dan dukungan sosial tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan stres kerja. Diharapkan penelitian ini dapat mengidentifikasi dan memahami berbagai penyebab stres yang dialami oleh tenaga keperawatan.
PENGARUH TERAPI SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) TERHADAP RESILIENSI REMAJA USIA 15-18 TAHUN DI SMKN 3 KUDUS Hellen Novrida; Anny Rosiana Mashitoh; Ashri Maulida
Nusantara Hasana Journal Vol. 6 No. 1 (2026): Nusantara Hasana Journal, June 2026
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v6i1.2124

Abstract

Adolescence is a period characterized by significant physical, emotional, and social changes that make individuals vulnerable to stress and mental health problems. Low levels of resilience among adolescents can lead to anxiety, decreased motivation, poor academic performance, and an increased risk of negative behaviors. Therefore, resilience plays an important role in helping adolescents manage pressure, recover from adversity, and maintain healthy functioning. The Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) is a relaxation method that combines tapping on the body's meridian points with affirmations and spiritual elements. SEFT has been shown to help reduce stress and anxiety while improving emotional balance. By regulating emotions and promoting a sense of calmness, SEFT has the potential to enhance adolescent resilience. The long-term objective of this study is to develop SEFT therapy as an effective intervention for improving adolescent resilience, thereby reducing stress, anxiety, and emotional mental health problems. The specific objectives include measuring changes in resilience before and after therapy in both intervention and control groups and analyzing the effect of SEFT on resilience improvement. This study employed a quantitative research approach with a pre–post test design involving 52 students selected through purposive sampling. SEFT therapy was administered through the stages of set-up, tune-in, and tapping, while resilience was measured using the Resilience Scale. Data were analyzed using the t-test to determine the effectiveness of the therapy.
Terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) Meningkatkan Regulasi Emosi Pada Anak Tunagrahita: SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) Therapy Improves Emotional Regulation in Children with Mental Disabilities Putri Intan Rosita Dewi; Anny Rosiana Mashitoh; Muhamad Jauhar
Journal of Health Vol. 13 No. 2 (2026): Journal of Health (JoH) - July
Publisher : LPPM STIKES Guna Bangsa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30590/joh.v13n2.157

Abstract

Background: Children with intellectual disabilities often experience difficulty managing their emotions due to intellectual limitations, which can impact their mental health. SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) therapy, which combines tapping techniques on the body's energy points with a spiritual approach, can improve emotional regulation. Objective: This study aims to analyze the effect of SEFT therapy on emotional regulation in children with intellectual disabilities. Methods: The study design used a quasi-experimental pre-test and post-test with a control group. The study was conducted in two special needs schools (SLB) in Kudus Regency in February 2025, with a sample of 38 students using a purposive sampling technique. Inclusion criteria were students with mild to moderate intellectual disabilities aged 7–15 years. Exclusion criteria included severe behavioral disorders, inhibiting conditions, and failure to complete the intervention. SEFT therapy was conducted in four sessions over two weeks, each lasting 15–20 minutes. The research instrument used the Emotion Regulation Checklist, and data analysis used paired t-tests and independent t-tests. Results: SEFT therapy significantly improved emotional regulation in children with intellectual disabilities (p=0.001). Conclusion: SEFT therapy effectively improves emotional regulation and is recommended for use in special education settings.
Hubungan Keterlibatan Dan Partisipasi Perawat Dalam Discharge Planning Terhadap Tingkat Kesiapan Pulang Pasien Di RSUD RA Kartini Jepara Novia Dwi Anggraini; Muhammad Purnomo; Anny Rosiana Mashitoh
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61729

Abstract

Kesiapan pulang pasien merupakan indikator penting keberhasilan transisi perawatan dari rumah sakit ke rumah. Keterlibatan dan partisipasi perawat dalam discharge planning berperan dalam memberikan edukasi, koordinasi pelayanan, melibatkan keluarga, serta mempersiapkan pasien untuk melakukan perawatan secara mandiri. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan keterlibatan dan partisipasi perawat dalam discharge planning dengan tingkat kesiapan pulang pasien di RSUD R.A. Kartini Jepara. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 98 pasien rawat inap yang dipilih menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi Quality of Discharge Teaching Scale (QDTS) keterlibatan perawat dan partisipasi perawat serta Readiness for Hospital Discharge Scale (RHDS) untuk kesiapan pulang pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan keterlibatan perawat kategori tinggi sebesar 70,4% dan partisipasi perawat kategori tinggi sebesar 72,4%. Kesiapan pulang pasien sebagian besar cukup siap sebesar 50,0%. Terdapat hubungan signifikan keterlibatan perawat dengan kesiapan pulang (p=0,000; r=-0,623) dan partisipasi perawat dengan kesiapan pulang (p=0,000; r=-0,664). Semakin optimal keterlibatan dan partisipasi perawat, semakin baik kesiapan pasien melanjutkan perawatan di rumah.