Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dampak Dan Kerentanan Abrasi Pantai Terhadap Garis Pantai Painan Sumatera Barat Fadila Fadila; Yuli Susanti; Akbarullah Akbarullah; Eni Kamal; Abdul Razak; Widya Prarikeslan
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4761

Abstract

Wilayah pesisir Painan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat termasuk suatu daerah yang mempunyai potensi sumber daya laut tinggi namun menghadapi tekanan lingkungan akibat abrasi pantai. Fenomena abrasi menyebabkan mundurnya garis pantai yang berdampak pada kerusakan fisik, ekologis, dan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi perubahan garis pantai serta tingkat kerentanan kepada abrasi di wilayah pesisir Painan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif serta analisis spasial yang bergantung pada teknologi penginderaan jauh serta Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil dari analisis memperlihatkan bahwa di beberapa lokasi di pesisir, terutama di daerah Painan Timur dan Painan Selatan, garis pantai telah berubah sejauh 5-20 meter. Faktor alam seperti gelombang laut, arus sejajar pantai, dan pasang surut, serta faktor manusia seperti alih fungsi lahan, penebangan vegetasi pantai, dan pembangunan pemukiman di dekat pantai, bertanggung jawab atas perubahan ini. Wilayah pesisir Painan diklasifikasikan sebagai memiliki tingkat kerentanan abrasi tinggi hingga sangat tinggi, yang berdampak besar pada infrastruktur, ekosistem pantai, dan mata pencaharian masyarakat pesisir. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini merekomendasikan rehabilitasi vegetasi pantai melalui penanaman cemara laut dan mangrove, penerapan zona sempadan pantai setidaknya 100 meter, dan pengelolaan pesisir berbasis kerentanan. Ini akan menjaga lingkungan dan kesejahteraan penduduk pesisir Painan.
Pengelolaan Sampah Dan Dampaknya Terhadap Penyakit Kulit: Analisis Prevalensi Dan Faktor Risiko Dermatitis Pada Pekerja Sektor Informal Di Indonesia Adisti Vadila; Yuli Susanti; Eri Barlian; Elsa Yuniarti; Linda Handayuni
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5166

Abstract

Peningkatan volume sampah perkotaan di Indonesia berbanding lurus dengan peningkatan jumlah pekerja di sektor pengelolaan sampah, khususnya sektor informal seperti pemulung. Kelompok pekerja ini menghadapi risiko kesehatan kerja (K3) yang tinggi akibat paparan langsung terhadap limbah biologis, kimia, dan fisik tanpa perlindungan yang memadai. Penyakit kulit, terutama dermatitis, merupakan salah satu penyakit akibat kerja (PAK) yang paling sering dilaporkan di kalangan pekerja ini..Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif prevalensi penyakit kulit, dengan fokus pada dermatitis, di kalangan petugas pengelola sampah informal di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode Tinjauan Literatur Komprehensif (Comprehensive Literature Review). Data dikumpulkan dari database ilmiah Google Scholar, SINTA, dan Garuda, dengan fokus pada studi cross-sectional yang dipublikasikan dalam sepuluh tahun terakhir (2015-2025). Hasil penelitian menunjukkan sintesis dari berbagai studi kasus di Indonesia menunjukkan prevalensi penyakit kulit yang sangat tinggi. Studi di TPA Muara Fajar (Pekanbaru) menemukan 88,7% pemulung menderita penyakit kulit. Studi lain di TPA Terjun (Medan) melaporkan 56,1% mengalami keluhan kulit, dan TPA Pecuk (Indramayu) melaporkan 37,5% menderita dermatitis kontak. Faktor risiko yang secara konsisten menunjukkan hubungan signifikan adalah personal hygiene yang buruk (meningkatkan risiko 1,6 hingga 4,9 kali), tidak menggunakan APD (risiko 1,4 kali lebih tinggi), dan masa kerja (pemulung dengan masa kerja >10 tahun berisiko 6,2 kali lebih tinggi menderita gangguan kulit).