Suwaldi Martodihardjo
Universitas Islam Sultan Agung

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Formulasi Dan Evaluasi Mutu Fisik Sediaan Lip Balm Dari Minyak Zaitun (Olea Europaea). Dan Buah Jeruk Kalamanasi (Citrus Microcarpa) Sebagai Pelembab Bibir Amilia Nurjanah; Suwaldi Martodihardjo
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5219

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan mengevaluasi mutu fisik sediaan lip balm yang menggunakan bahan dasar halal, yaitu minyak zaitun (Olea europaea) dan sari buah jeruk kalamansi (Citrus microcarpa), dengan fokus pada peningkatan kelembapan bibir. Minyak zaitun dipilih sebagai emolien alami yang berfungsi mempertahankan kadar air dan elastisitas bibir sementara sari jeruk kalamansi berfungsi sebagai humektan untuk menarik dan mempertahankan kelembapan, sekaligus sebagai pewarna alami. Dibuat tiga formula dengan variasi konsentrasi minyak zaitun: 10% (F1), 15% (F2), dan 20% (F3). Pembuatan lip balm menggunakan basis oleum cacao dengan eksipien tambahan nipagin, cera alba, dan gliserin melalui metode peleburan dan pencampuran. Evaluasi mutu fisik meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, daya lekat, daya sebar, dan kelembapan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi uji organoleptis, homogenitas, dan daya lekat (lebih dari 1 detik). Untuk uji pH, F1 (6,1) dan F2 (4,9) berada dalam rentang aman (pH 4,5–6,5), sedangkan F3 (4,3) sedikit asam. Uji daya sebar semua formula masih berada di bawah standar ideal (5–7 cm), kemungkinan dipengaruhi oleh tingginya kadar cera alba. Uji kelembapan (loss on drying) menunjukkan F1 (2,99%) dan F2 (4,23%) berada dalam rentang standar (0,5–5%), namun F3 (6,68%) melebihi batas, yang dapat mengurangi stabilitas karena tingginya kandungan air dari sari jeruk kalamansi. Secara keseluruhan, Formula 2 (15%) dinilai sebagai formula paling optimal karena menghasilkan keseimbangan yang baik, yaitu stabil dalam kadar kehilangan bobot, pH sesuai standar, daya lekat cukup lama, dan daya sebar lebih baik dibandingkan formula 1.
Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Konsumsi Zat Besi Dalam Pencegahan Anemia Berdasarkan Perspektif Islam di Puskesmas Tlogosari Kulon Anisa Hasna Rahmatika; Suwaldi Martodihardjo; Sugiyanti Sugiyanti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5250

Abstract

Latar Belakang: Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan global dan nasional yang dapat meningkatkan risiko kematian ibu (AKI) akibat perdarahan postpartum. Berdasarkan data profil kesehatan, Puskesmas Tlogosari Kulon mencatat 64 kasus ibu hamil anemia pada tahun 2023, yang salah satunya besar kemungkinan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan akan gizi ibu hamil. Dalam perspektif Islam, menuntut ilmu, termasuk menjaga kesehatan kehamilan, adalah kewajiban dan bentuk tanggung jawab. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang konsumsi zat besi dalam pencegahan anemia berdasarkan perspektif Islam. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan deskriptif kuantitatif. Populasi adalah semua ibu hamil yang memeriksakan kehamilan di Puskesmas Tlogosari Kulon. Sampel berjumlah 50 ibu hamil yang diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner sebanyak 21 soal yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (nilai Cronbach Alpha 0,680). Kuesioner terdiri dari 3 ranah pengetahuan: tahu, memahami, dan aplikasi. Analisis data menggunakan analisis univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan tingkat pengetahuan (Baik: 76–100% benar; Cukup: 56–75% benar; Kurang: <56% benar). Hasil: Karakteristik responden mayoritas berusia 20–35 tahun (82%) dan memiliki pendidikan tinggi (Diploma/S1/S2) (66%). Sebagian besar responden (90%) mendapatkan sumber informasi terkait konsumsi zat besi dari tenaga kesehatan. Jawaban responden menunjukkan tingkat pengetahuan yang tinggi pada beberapa pertanyaan dasar, seperti fakta bahwa Tablet Tambah Darah (TTD) wajib diminum untuk ibu hamil (96% benar) dan anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi (98% benar). Kesimpulan: Mayoritas responden di Puskesmas Tlogosari Kulon memiliki tingkat pendidikan dan usia yang ideal untuk kehamilan serta sumber informasi utama mengenai konsumsi zat besi didapatkan dari tenaga kesehatan, yang berkorelasi positif dengan pengetahuan yang baik tentang TTD dan anemia.
Analisis Penyimpanan Obat Psikotropika Dan Narkotika Berdasarkan Standar Kefarmasian Dan Menurut Prinsip Syariat Islam Di Puskesmas Rowosari Suwaldi Martodihardjo; Sriatun Widyaningsih; Annisa Rahmaliya Arwin
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5290

Abstract

Latar Belakang: Pengelolaan obat psikotropika dan narkotika di fasilitas pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas, memerlukan penyimpanan khusus dan pengawasan ketat dari pemerintah untuk mencegah penyalahgunaan dan menjaga mutu sediaan. Penyimpanan yang tidak sesuai standar dapat berakibat pada penurunan kualitas obat dan risiko kehilangan. Dalam perspektif Islam, menjaga mutu dan keamanan obat merupakan bentuk tanggung jawab dan pemenuhan amanah (ihsan) yang wajib dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian sistem penyimpanan obat psikotropika dan narkotika di Puskesmas Rowosari berdasarkan Standar Kefarmasian yang berlaku dan menurut Prinsip Syariat Islam. Metode: Penelitian ini menggunakan desain non-eksperimental secara deskriptif observasional. Populasi penelitian adalah Instalasi Farmasi di Puskesmas Rowosari , dengan sampel yaitu Gudang Obat Puskesmas Rowosari. Pengumpulan data dilakukan pada tahun 2025 melalui wawancara dan observasi langsung menggunakan lembar checklist yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 74 Tahun 2016 dan Permenkes No. 5 Tahun 2023. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan persentase, di mana skor 81%–100% dikategorikan sebagai Sangat Baik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem penyimpanan obat Psikotropika dan Narkotika di Puskesmas Rowosari secara keseluruhan mendapatkan persentase kesesuaian 100% yang berarti berada dalam kategori Sangat Baik. Kesesuaian 100% ini dicapai pada tiga variabel evaluasi: Cara Penyimpanan Obat (menggunakan sistem FIFO/FEFO, dalam wadah asli, terpisah berdasarkan jenis sediaan, lemari khusus yang kuat) , Pengaturan Tata Ruang (suhu ruangan 21°C–25°C sesuai standar, terdapat AC dan termometer, ventilasi dan pencahayaan baik) , dan Pencatatan Kartu Stok (kartu stok diletakkan berdekatan dengan obat dan pencatatan dilakukan setiap ada transaksi).Kesimpulan: Sistem penyimpanan obat Narkotika dan Psikotropika di Puskesmas Rowosari telah sangat sesuai (100%) dengan standar pedoman kefarmasian di Indonesia (Permenkes) maupun prinsip Syariat Islam.
Kajian Interaksi Obat Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Komplikasi Hipertensi Di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Islam Sultan Agung Anna Rahmawati; Suwaldi Martodihardjo
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5291

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Mellitus Tipe 2 (DM Tipe 2) merupakan penyakit degeneratif kronis dengan prevalensi tinggi di Indonesia, dan seringkali disertai komplikasi Hipertensi. Sekitar 40-80% pasien DM juga menderita hipertensi, dan pasien DM memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi terkena hipertensi dibandingkan non-DM. Penatalaksanaan kedua penyakit ini umumnya melibatkan polifarmasi (penggunaan lima atau lebih obat), yang meningkatkan risiko terjadinya Drug Related Problems (DRP), terutama interaksi obat. Interaksi obat dapat menyebabkan penurunan efektivitas atau peningkatan toksisitas obat, yang berujung pada kegagalan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi interaksi obat pada pasien DM Tipe 2 dengan komplikasi Hipertensi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Islam Sultan Agung. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan kohort retrospektif. Data dikumpulkan secara retrospektif dari rekam medis 71 pasien rawat jalan yang memenuhi kriteria inklusi (DM Tipe 2 dengan Hipertensi, berusia ≥30 tahun) selama periode Januari–Juni 2025 menggunakan teknik purposive sampling. Interaksi obat potensial dianalisis menggunakan literatur terpercaya (seperti drugs.com/Medscape) dan dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahannya: minor, moderat, dan mayor. Hasil: Dari 71 subjek penelitian, didapatkan mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan (61%) dan berada pada kelompok usia ≥61 tahun (48%). Penggunaan obat antidiabetes paling dominan adalah golongan Biguanide (Metformin, 35%) dan Sulfonilurea (Glimepiride, Gliclazide, Gliquidone, total 36%), yang sering dikombinasikan untuk menghasilkan efek sinergis dalam menurunkan glukosa darah. Kesimpulan: Kajian ini memberikan gambaran tentang potensi interaksi obat pada peresepan pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam upaya optimalisasi terapi, terutama dalam mengidentifikasi dan meminimalkan risiko interaksi obat, demi peningkatan kualitas pelayanan farmakoterapi.
Tingkat Pengetahuan Pasien dan Rasionalitas Swamedikasi dalam Perspektif Islam di Apotek Merdeka Anida Hasna Rahmatika; Suwaldi Martodihardjo
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5487

Abstract

Latar Belakang: Swamedikasi (self-medication) merupakan upaya pengobatan mandiri tanpa resep dokter yang memiliki prevalensi tinggi di Indonesia, bahkan mencapai 76,17% penduduk Jawa Tengah pada tahun 2024. Praktik swamedikasi yang tidak rasional dapat menimbulkan risiko kesehatan, seperti efek samping, interaksi obat, hingga resistensi. Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan adalah bentuk amanah (ihsan) yang menuntut kehati-hatian, kepatuhan, dan tanggung jawab dalam memilih dan menggunakan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien dan rasionalitas swamedikasi yang dilakukan oleh pasien Muslim di Apotek Merdeka, Kabupaten Demak, dalam konteks nilai-nilai Islam. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif non-eksperimental. Populasi adalah pasien yang melakukan swamedikasi di Apotek Merdeka, dengan sampel sebanyak 50 responden (berusia 18–60 tahun dan beragama Islam) yang diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner tertutup 21 pertanyaan yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach’s Alpha Pengetahuan: 0,694; Rasionalitas: 0,663). Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan persentase tingkat pengetahuan (Baik, Cukup, Kurang Baik) dan rasionalitas (Rasional/Tidak Rasional). Hasil: Mayoritas responden didominasi oleh perempuan (72%) , usia produktif 18-28 tahun (42%) , dan memiliki pendidikan terakhir SMA (54%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pasien mengenai swamedikasi secara umum tergolong cukup dengan nilai rata-rata 52%. Namun, sebagian besar responden telah melakukan swamedikasi secara rasional. Uji statistik menunjukkan bahwa usia dan pendidikan terakhir memiliki pengaruh signifikan terhadap pengetahuan dan rasionalitas swamedikasi , tetapi secara umum tingkat pengetahuan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan rasionalitas swamedikasi (p value > 0.05).Kesimpulan: Tingkat pengetahuan pasien swamedikasi di Apotek Merdeka tergolong cukup, namun mayoritas telah melakukan swamedikasi secara rasional, yang menunjukkan adanya faktor lain seperti kesadaran, kepedulian, dan pengalaman pribadi yang mempengaruhi keputusan pengobatan di samping pengetahuan formal.