Andika Pradana
Medical Faculty of University Sumatera Utara, Medan, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perbandingan Frekuensi Eksaserbasi pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) antara Penerima Monobronkodilator dan Dual Bronkodilator di Rumah Sakit Umum H. Adam Malik Medan dan Rumah Sakit Prof. CPL USU Elfia Damaiyanti Br Lingga; Pandiaman Pandia; Andika Pradana; Yuki Yunanda
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5356

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) menimbulkan beban kesehatan global signifikan, dengan tingkat eksaserbasi tinggi yang tetap terjadi meskipun terapi bronkodilator jangka panjang, terutama pada perokok laki-laki lansia di Indonesia. Ketidakpastian masih ada terkait efektivitas monobronkodilator versus dual bronkodilator dalam setting dunia nyata. Tujuan: Penelitian ini membandingkan frekuensi eksaserbasi pada pasien PPOK penerima terapi monobronkodilator dan dual bronkodilator. Jenis dan Metode Penelitian: Penelitian kuantitatif dengan desain kohort retrospektif di dua rumah sakit rujukan tersier Indonesia (RSUP H. Adam Malik Medan dan RS Prof. CPL USU), Januari–Juni 2025. Populasi dan Sampel: Pasien ≥40 tahun dengan PPOK (ICD-10 J44); sampel purposif 268 pasien (134 per kelompok) yang memenuhi kriteria inklusi (terapi ≥3 bulan, rekam lengkap). Instrumen dan Teknik Analisis Data: Formulir ekstraksi standar dan codebook; statistik deskriptif, uji Chi-kuadrat, regresi Poisson. Hasil: Kelompok monobronkodilator menunjukkan eksaserbasi lebih tinggi (15/53, 28,3%) dibanding dual (2/52, 6,3%), p=0,014. Kesimpulan: Terapi dual bronkodilator (LABA/LAMA) secara signifikan menurunkan frekuensi eksaserbasi dibanding monoterapi, mendukung penerapannya pada pasien PPOK berisiko tinggi.