Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) menimbulkan beban kesehatan global signifikan, dengan tingkat eksaserbasi tinggi yang tetap terjadi meskipun terapi bronkodilator jangka panjang, terutama pada perokok laki-laki lansia di Indonesia. Ketidakpastian masih ada terkait efektivitas monobronkodilator versus dual bronkodilator dalam setting dunia nyata. Tujuan: Penelitian ini membandingkan frekuensi eksaserbasi pada pasien PPOK penerima terapi monobronkodilator dan dual bronkodilator. Jenis dan Metode Penelitian: Penelitian kuantitatif dengan desain kohort retrospektif di dua rumah sakit rujukan tersier Indonesia (RSUP H. Adam Malik Medan dan RS Prof. CPL USU), Januari–Juni 2025. Populasi dan Sampel: Pasien ≥40 tahun dengan PPOK (ICD-10 J44); sampel purposif 268 pasien (134 per kelompok) yang memenuhi kriteria inklusi (terapi ≥3 bulan, rekam lengkap). Instrumen dan Teknik Analisis Data: Formulir ekstraksi standar dan codebook; statistik deskriptif, uji Chi-kuadrat, regresi Poisson. Hasil: Kelompok monobronkodilator menunjukkan eksaserbasi lebih tinggi (15/53, 28,3%) dibanding dual (2/52, 6,3%), p=0,014. Kesimpulan: Terapi dual bronkodilator (LABA/LAMA) secara signifikan menurunkan frekuensi eksaserbasi dibanding monoterapi, mendukung penerapannya pada pasien PPOK berisiko tinggi.
Copyrights © 2025