Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi fenomena perilaku membaca civitas academica STIE Ciputra Makassar yang mempertahankan preferensi buku cetak di era digital. Studi ini secara khusus menganalisis pergeseran motivasi membaca dan peran buku fisik sebagai media pemenuhan kebutuhan psikologis (self-healing) di tengah ekosistem kampus yang terdigitalisasi. Penelitian kualitatif ini menerapkan desain studi kasus untuk memahami konteks kehidupan nyata secara mendalam. Tujuh partisipan yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan staf dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan Thematic Analysis berbantuan perangkat lunak NVivo untuk proses koding dan kategorisasi tema. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama. Pertama, motivasi membaca didominasi oleh kebutuhan psikologis untuk meredakan stres dan kecemasan (overthinking), yang sering kali dilakukan sebagai ritual malam hari (nocturnal bibliotherapy). Kedua, ditemukan resistensi mutlak (100%) terhadap format e-book yang didorong oleh tuntutan pengalaman sensori (embodied reading) dan keinginan untuk jeda dari layar (sensory break). Ketiga, pola penemuan informasi bersifat hibrida, di mana algoritma media sosial (TikTok/Instagram) berfungsi memicu minat baca (digital discovery), namun konsumsi akhir tetap dilakukan secara fisik di perpustakaan (analogue consumption). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa buku cetak berfungsi vital sebagai jangkar emosional (emotional anchor) bagi kesejahteraan mental mahasiswa (student well-being), bukan sekadar media informasi. Perpustakaan disarankan untuk mengadopsi kebijakan pengembangan koleksi yang humanis serta strategi promosi omnichannel yang mengintegrasikan tren konten digital dengan pengalaman fisik di ruang perpustakaan.