Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tersirat Dalam Tindak Tutur: Menguak Makna Direktif Dalam Konten Video Najwa Shihab Adelia Putri Febriyanti; R Panji Hermoyo
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6846

Abstract

Artikel ini bertujuan mengkaji penggunaan tindak tutur ilokusi direktif dalam video yang dipublikasikan melalui akun media sosial Najwa Shihab sebagai bentuk komunikasi publik di era digital. Penelitian ini berangkat dari pandangan bahwa bahasa dalam media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai alat tindakan sosial yang berperan dalam mengarahkan interaksi, membentuk wacana, dan mempengaruhi pemaknaan audiens terhadap isu-isu publik. Pendekatan pragmatik digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk tindak tutur ilokusi direktif yang muncul dalam konteks wawancara dan diskusi publik. Bentuk-bentuk tindak tutur yang dikaji meliputi instruksi, permintaan, pertanyaan, dan ajakan, yang masing-masing memiliki fungsi komunikatif dalam mendorong respons mitra tutur. Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan konteks situasional, tujuan komunikasi, serta relasi antarpartisipan tutur, sehingga makna tuturan tidak hanya dipahami secara linguistik, tetapi juga secara pragmatis. Hasil kajian menunjukkan bahwa tindak tutur ilokusi direktif digunakan secara dominan sebagai strategi komunikasi dalam video-video Najwa Shihab. Tindak tutur tersebut berfungsi untuk mengarahkan jalannya interaksi, menggali informasi secara kritis dari narasumber, serta membangun keterlibatan audiens dalam diskursus publik. Penggunaan tindak tutur direktif, khususnya dalam bentuk pertanyaan dan permintaan, menunjukkan upaya penutur dalam menciptakan komunikasi yang dialogis dan partisipatif. Keefektifan tindak tutur ilokusi direktif dipengaruhi oleh konteks situasional, tujuan komunikasi, dan posisi partisipan tutur. Temuan ini menegaskan pentingnya peran tindak tutur ilokusi direktif dalam komunikasi publik berbasis media sosial serta memberikan kontribusi teoretis bagi kajian pragmatik dan implikasi praktis bagi pengembangan komunikasi jurnalistik yang kritis dan bertanggung jawab di era digital.
Paradoks Hiperkoreksi: Strategi Mobilitas Sosial melalui Penguasaan Modal Budaya dan Prestise Bahasa Adelia Putri Febriyanti; R Panji Hermoyo
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1475

Abstract

Language functions not only as a communication tool but also as a social resource with symbolic value in shaping identity, recognition, and social mobility. This study aims to examine linguistic hypercorrection as a social strategy for achieving legitimacy through the acquisition of cultural capital, linguistic capital, and language prestige. This research employed a qualitative approach with a social phenomenological design. Data were collected through in depth interviews, observation of language practices, and documentation, while analysis was conducted using thematic analysis based on Pierre Bourdieu’s concepts of cultural capital, habitus, field, linguistic capital, and symbolic capital. The findings indicate that hypercorrection is not merely a linguistic mistake but a social practice related to identity construction, social acceptance, and efforts to improve social position. The use of prestigious language can enhance perceptions of competence, education, and professionalism, particularly in academic and professional environments. However, excessive and inappropriate language use may produce social stigma and reveal a gap between linguistic capital and social habitus. This study introduces the concept of the “Hypercorrection Paradox,” demonstrating that language can function both as an instrument of social mobility and as a source of social distance. The findings contribute to sociolinguistic studies by highlighting language as a social practice connected to power, prestige, and symbolic resources.