Aripin Marpaung
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perceraian di Luar Pengadilan dalam Fiqh Kontemporer dan Implikasinya Terhadap Perlindungan Hak Perempuan dan Hak Anak Aripin Marpaung; Rusman Harahap; Niko Irwanda Sipahutar; Umairoh Adawiyah Siregar; Zaqi Asshiddqy
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6879

Abstract

Perceraian di luar pengadilan masih banyak dilakukan karena dianggap sah secara agama dan lebih mudah dilaksanakan. Namun, praktik ini sering menimbulkan berbagai persoalan, terutama yang berkaitan dengan perlindungan hak perempuan dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perceraian di luar pengadilan dalam perspektif fikih kontemporer serta menganalisis dampaknya terhadap perlindungan hak perempuan dan anak. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan menelaah buku, artikel ilmiah, dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perceraian dan hukum keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceraian di luar pengadilan cenderung menimbulkan ketidakpastian hukum, terutama bagi perempuan yang kehilangan hak nafkah dan perlindungan pasca-perceraian. Anak-anak juga berisiko tidak mendapatkan hak nafkah dan pengasuhan yang layak karena tidak adanya keputusan hukum yang jelas. Dalam pandangan fikih kontemporer, perceraian perlu dilihat dari dampaknya dalam kehidupan nyata, bukan hanya dari sah atau tidaknya ucapan talak. Oleh karena itu, perceraian melalui pengadilan dipandang penting sebagai upaya melindungi hak perempuan dan anak serta menjaga keadilan dalam kehidupan keluarga.
Hadroh in the Mosque from the Perspective of Imam Ibn Hajar al-Haitami and Imam Jalaluddin al-Suyuthi Lafifah Ulfah Dalimunthe; Aripin Marpaung
Urwatul Wutsqo: Jurnal Studi Kependidikan dan Keislaman Vol. 15 No. 01 (2026): Sociocultural Islamic Education
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) IAI Al Urwatul Wutsqo - Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54437/urwatulwutsqo.v15i2.3601

Abstract

This study aims to analyze the differences in opinion between Imam Ibn Hajar al-Haitami and Imam Jalaluddin as-Suyuthi regarding the law of performing hadroh in mosques. This study uses a normative sociological research method with a comparative approach. The types of research used are field research and library research. Primary data was obtained through interviews with the administrators of the Mosque Trust Board, hadroh members, and the community around the mosque, while secondary data was obtained from fiqh books, the works of Imam Ibnu Hajar al-Haitami and Jalaluddin as-Suyuthi, scientific journals, and other supporting literature. The results of the research show that Imam Ibnu Hajar al-Haitami allows the use of hadroh in mosques as long as it aims to spread Islam, does not contain elements of immorality, and maintains mosque etiquette. This opinion is based on the hadith regarding the use of duff in wedding ceremonies in mosques as well as the qiyas approach to other religious activities. Meanwhile, Imam Jalaluddin as-Suyuthi forbade the playing of hadroh in mosques because he considered it to diminish the honor and sanctity of the mosque as a place of worship. The differences in opinion between the two scholars were influenced by differences in the method of istinbat (legal determination), understanding of the function of mosques, use of evidence, and perspectives on art and entertainment in Islam. The practice of hadroh at the Al-Ihsan Tangguk Bongkar IX Mosque is generally carried out during religious activities such as birthdays, isra' mi'raj, and prayer meetings, so that it functions more as a medium for preaching and spreading Islam. After conducting Munaqasyah al-adillah, this research tends to clarify the opinion of Imam Ibnu Hajar al-Haitami as an opinion that is more relevant to the practice of hadroh in mosques, while still paying attention to the boundaries of the Shari'a, mosque etiquette and the solemnity of the congregation.