Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Asbabun Nuzul Ayat 178 Surah Albaqarah dan Hubungan Nya Dengan Qisas Sebagai Balasan Kejahatan Yang Setimpal Fika Maharani; Khairunisa Azzahra; Faris Naufal; Pausi Rahman; Rudhatul Rizka Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6998

Abstract

The asbāb al-nuzūl (circumstances of revelation) of verse 178 of Surah Al-Baqarah is closely related to the establishment of divine legal principles concerning qiṣāṣ (retaliatory justice) and diyah (blood money). During the period of Jāhiliyyah (pre-Islamic Arabia), inter-tribal conflicts were common and often marked by cycles of violence and revenge that lacked clear legal or moral boundaries. In many cases, tribes would kill women or slaves and remain dissatisfied until they could retaliate further by killing a free person, whom they considered of higher social status, as compensation for the original loss. The revelation of Surah Al-Baqarah verse 178 addressed these unjust practices by introducing a principle of proportional and equitable justice. The verse stipulates that qiṣāṣ must be carried out fairly—“a free person for a free person, a slave for a slave, and a woman for a woman”—thereby eliminating arbitrary revenge and preventing the escalation of violence. This ruling rejected the Jahiliyyah notion that social hierarchy justified excessive retaliation and instead affirmed equality before the law. Moreover, the verse emphasizes that qiṣāṣ serves as a means of upholding justice through proportional punishment—life for life—while simultaneously offering a path toward mercy and reconciliation. It allows the victim’s family to forgive the offender in exchange for diyah, which must be given and received in a fair and respectful manner. Ultimately, the objective of this divine legislation is to promote taqwā (piety), restrain hostility, and bring an end to cycles of enmity and bloodshed within society.
ANALISIS PEMIKIRAN TAFSIR MODERN DAN KONTEMPORER TERHADAP NILAI-NILAI EKONOMI ISLAM DALAM MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN BERKEADILAN Wafiq Azizah Rangkuti; Faris Naufal; Farid Adnir
INTERNATIONAL, Journal of Sharia Business Management Vol 5 No 3 (2026)
Publisher : CV. Barokah Publsiher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran tafsir modern dan kontemporer terhadap nilai-nilai ekonomi Islam dalam mewujudkan pembangunan berkeadilan. Kajian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan akan konsep pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan pemerataan kesejahteraan, keadilan sosial, dan keberlanjutan pembangunan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai jurnal ilmiah, buku, dan literatur akademik yang membahas tafsir ekonomi Islam, pembangunan berkeadilan, serta pemikiran para mufasir modern dan kontemporer. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis isi (content analysis) untuk mengidentifikasi, mengelompokkan, dan menginterpretasikan berbagai konsep yang berkaitan dengan nilai-nilai ekonomi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir modern dan kontemporer memberikan pemahaman yang lebih kontekstual terhadap ayat-ayat ekonomi Al-Qur’an, terutama terkait prinsip keadilan, kemaslahatan, keseimbangan, amanah, dan falah. Nilai-nilai tersebut memiliki kontribusi yang signifikan dalam mendukung pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, pemikiran tafsir modern dan kontemporer dapat menjadi landasan konseptual dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih adil serta sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam.