Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Ibu Mengenai Upaya Pencegahan Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Koja Nadya Wahyuningsih; Titik Setiyaningrum; Ira Kusumawati; Rahayu Maharani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang terjadi akibat kekurangan asupan gizi dalam jangka panjang,terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Salah satu faktor yang berperan penting dalam upaya pencegahan stuntingadalah tingkat pengetahuan ibu, yang dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, dan ekonomi keluarga.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu mengenai upayapencegahan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Koja. Jenis penelitian ini menggunakan desainkuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 81 ibu balita. Pengambilan sampelmenggunakan rumus Slovin dengan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dandata dianalisis menggunakan uji Spearman Rank.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki upaya pencegahan stunting pada kategori baik(67,9%), pendidikan ibu berada pada kategori menengah (64,2%), pengalaman ibu berada pada kategori cukup (55,6%),dan kondisi ekonomi keluarga berada pada kategori baik (75,3%). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubunganantara pengalaman ibu dan ekonomi keluarga dengan upaya pencegahan stunting pada balita dengan nilai p-value masingmasing sebesar 0,007<0,05 dan 0,000<0,05. Sementara itu, pendidikan ibu tidak menunjukkan hubungan dengan upayapencegahan stunting pada balita dengan nilai p-value sebesar 0,124>0,05.Oleh karena itu, peningkatan edukasi kesehatan bagi ibu serta dukungan ekonomi keluarga sangat diperlukan sebagaistrategi dalam pencegahan stunting secara berkelanjutan.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Penerapan PHBS dengan Pola Hidup Sehat pada Anak di SDN 11 Pagi Ciracas Jakarta Timur Sherly Shaudy; Titik Setiyaningrum; Ira Kusumawati; Rahayu Maharani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7922

Abstract

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan upaya penting dalam meningkatkan derajat kesehatan anak usia sekolah. Anak sekolah dasar masih rentan terhadap masalah kesehatan apabila perilaku hidup bersih dan sehat tidak diterapkan secara optimal. Pengetahuan dan penerapan PHBS diharapkan dapat membentuk pola hidup sehat sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan pola hidup sehat pada anak di SDN 11 Pagi Ciracas Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV dan V di SDN 11 Pagi Ciracas Jakarta Timur sebanyak 94 responden dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan PHBS kategori baik sebanyak 88 siswa (93,6%)dan kategori kurang sebanyak 6 siswa (6,4%), penerapan PHBS kategori baik sebanyak 91 siswa (96,8%) dan kategori kurang sebanyak 3 siswa (3,2%), serta pola hidup sehat sebanyak 92 siswa (97,9%) dan kategori tidak sehat yaitu sebanyak 2 siswa (2,1%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa hubungan antara tingkat pengetahuan PHBS dengan pola hidup sehat diperoleh nilai p-value = 0,124 (p > 0,05) dengan Odds Ratio (OR) = 17,400, sedangkan hubungan antara penerapan PHBS dengan pola hidup sehat diperoleh nilai p-value = 1,000 (p > 0,05). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan maupun penerapan PHBS dengan pola hidup sehat pada anak di SDN 11 Pagi Ciracas Jakarta Timur. Meskipun demikian, secara deskriptif sebagian besar siswa telah memiliki pengetahuan, penerapan PHBS, dan pola hidup sehat yang baik, sehingga perlu dipertahankan dan ditingkatkan melalui edukasi kesehatan yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Efektifitas Pelatihan Bantuan Hidup Dasar terhadap Tingkat Pengetahuan Siswa SMAN 5 Jakarta Bahreni Yusuf; Ira Kusumawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i2.24439

Abstract

ABSTRAK Keadaan gawat darurat merupakan keadaan yang memerlukan penanganan atau tindakan segera untuk menghilangakan ancaman nyawa korban yang dapat menyebabkan kematian. Henti jantung merupakan salah satu kondisi kegawatdaruratan yang terjadi secara tiba-tiba tanpa gejala awal. Tanpa penanganan yang segera, kematian dapat terjadi hanya dalam hitungan menit. Resusitasi jantung paru merupakan salah satu penanganan paling mendasar apabila menemukan seseorang yang mengalami henti jantung dan henti napas. Tingginya angka kematian akibat serangan jantung tidak lepas dari kurangnya pengetahuan masyarakat umum untuk memberikan pertolongan pertama saat menemukan korban henti jantung dan henti napas di luar rumah sakit. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas pelatihan bantuan hidup dasar terhadap tingkat pengetahuan siswa SMAN 5 Jakarta. Peneliti memberikan pelatihan bantuan hidup dasar kepada 103 siswa. Metode penelitian kuantitatif, jenis penelitian quasi-experimental dengan desain one group pretest-postest. Di dapatkan hasil bahwa ada perbedaan yang bermakna rerata tingkat pengetahuan siswa SMAN 5 Jakarta sebelum dan sesudah siswa diberikan pelatihan bantuan hidup dasar P value=0.00 (P0.05). Begitu juga pada tingkat kemampuan adanya perbedaan yang bermakna rerata tingkat kemampuan siswa SMAN 5 Jakarta sebelum dan sesudah diberikan pelatihan bantuan hidup dasar P value=0.00 (P0.05). Kesimpulan pelatihan bantuan hidup dasar efektif untuk meningkatkan pengetahuan siswa yang berdampak terhadap kesiapan siswa saat memberikan pertolongan pertama pada korban henti jantung dan henti napas di luar rumah sakit.  Kata Kunci: Pelatihan, Bantuan Hidup Dasar, Tingkat Pengetahuan.   ABSTRACT An emergency situation is a situation that requires immediate treatment or action to eliminate the threat to the victim's life that can cause death. Cardiac arrest is an emergency condition that occurs suddenly without initial symptoms. Without immediate treatment, death can occur in just a matter of minutes. Cardiopulmonary resuscitation is one of the most basic treatments when finding someone experiencing cardiac arrest and respiratory arrest. The high death rate due to heart attacks is inseparable from the general public's lack of knowledge in providing first aid when finding victims of cardiac arrest and respiratory arrest outside the hospital. This study aims to determine the effectiveness of basic life support training on the level of knowledge of students at SMAN 5 Jakarta. Researchers provided basic life support training to 103 students. The research method was quantitative, quasi-experimental research type with a one-group pretest-posttest design. The results showed that there was a significant difference in the average level of knowledge of students at SMAN 5 Jakarta before and after students were given basic life support training P value = 0.00 (P 0.05). Likewise, at the level of ability, there was a significant difference in the average level of ability of students of SMAN 5 Jakarta before and after being given basic life support training P value = 0.00 (P 0.05). The conclusion is that basic life support training is effective in increasing students' knowledge which has an impact on students' readiness when providing first aid to victims of cardiac and respiratory arrest outside the hospital. Keywords: Training, Basic Life Support, Knowledge Level.
Pelatihan Bantuan Hidup Dasar pada Siswa SMA 4 Kota Jakarta Bahreni Yusuf; Ira Kusumawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i2.24212

Abstract

ABSTRAK Sekitar 43 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit tidak menular, atau sekitar 74 % dari seluruh kematian di dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 18 juta kematian terjadi sebelum usia 70 tahun (prematur). Penyakit kardiovaskular (termasuk penyakit jantung dan stroke) adalah penyebab utama kematian, penyakit tidak menular dengan lebih dari 19 juta jiwa per tahun. Kejadian gawat darurat termasuk keadaan ketika korbanmengalami henti nafas dan henti jantung. Pertolongan pertama pada kondisi gawat darurat henti nafas dan henti jantung adalah bantuan hidup dasar, sekin cepat dilakukan maka semakin besar harapan hidup. Tujuan pelatihan BHD adalah untuk meningkatkan keterampilan BHD. Kegiatan ini dilakukan dengan metode pemaparan konsep dasar BHD, demonstrasi pelaksanaan BHD dan praktik BHD dengan menggunakan media manekin. Hasil yang didapatkan sebagian siswa (89%) siswa memahami BHD dan mampu melakukan BHD dengan benar Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar, Pelatihan, Siswa SMA.  ABSTRACT Approximately 43 million people die each year from non-communicable diseases, or about 74% of all deaths worldwide. Of these, approximately 18 million deaths occur before the age of 70 (premature). Cardiovascular disease (including heart disease and stroke) is the leading cause of death, with non-communicable diseases claiming more than 19 million lives annually. Emergency situations include situations where the victim experiences respiratory and cardiac arrest. First aid in emergency situations of respiratory and cardiac arrest is basic life support, and the sooner it is administered, the greater the chance of survival. The goal of BLS training is to improve BLS skills. This activity is carried out using the method of explaining the basic concepts of BLS, demonstrating its implementation, and practicing BLS using mannequins. The results obtained were that most students (89%) understood BHD and showed it correctly Keywords: Basic Life Support, Training, High School Students.