Arief Syaifudin
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Jaminan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan di Kawasan Wisata Kota Bandung Suparni; Mila Mardotillah; Arief Syaifudin; Ryan Juliansyah; Sri Komalaningsih
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45207

Abstract

Perkembangan pariwisata urban di Indonesia telah menjadi penggerak ekonomi kreatif, namun seringkali mengabaikan aspek Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan (K3L). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jaminan sarana wisata yang bersih, sehat, selamat dan menunjang kelestarian lingkungan penting untuk dilakukan karena dapat meningkatkan kemampuan pelaku pariwisata sehingga diharapkan persepsi kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan di sarana wisata meningkat dan menjadi daya tarik kampung wisata di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Variabel dalam penelitian ini adalah Kondisi Clean, Health, Safety dan Environment (CHSE). Sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling purposive sampling. 3 (tiga) Kawasan Wisata Kreatif yang dimasukan menjadi sampel adalah: Cigadung, Binong Jati, dan Braga. Hasil penelitian ini adalah unsur kebersihan dan kesehatan yang sudah diterapkan dengan baik adalah tersedianya sarana pembayaran non tunai yang sudah diterapkan di 3 lokasi. Fasilitas sarana kebersihan masih terbatas, pelatihan terkait CHSE sudah dilaksanakan tetapi belum tersosialisasi secara merata. Unsur Safety, peralatan keselamatan seperti Alat Pemadam Api Ringan (APAR) belum tersedia di semua KWK. Informasi keamanan, informasi kebencanaan, titik kumpul dan petunjuk evakuasi serta fasilitas kegawatdaruratan belum tersedia. Unsur Environment, kondisi lingkungan yang asri dan nyaman terlihat di setiap KWK. Implementasi Kawasan Tanpa Rokok baru tersedia di kawasan wisata Braga. Fasilitas ramah difabel belum tersedia, KWK Braga sudah ada tetapi belum dikelola dengan baik.
ULIN BARONG SEKELOA AS AN INTANGIBLE CULTURE OF BANDUNG Mila Mardotillah; Anwari Masatip; Arief Syaifudin
International Journal of Sustainable Competitiveness on Tourism Vol. 3 No. 02 (2024): IJSCOT III-02
Publisher : Politeknik Pariwisata NHI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34013/ijscot.v3i02.1604

Abstract

Ulin Barong Sekeloa is one of art culture were born from the local community in Bandung has been designated as an intangible cultural heritage of West Java Province from Bandung City. The meaning of Ulin is to play, Sirah Barong is the head of the barong, and Sekeloa is the name of a place in Bandung. This attraction is accompanied by traditional Sundanese musical instruments with an accompaniment of 12 peoples. Ulin Barong Sekeloa has appeared since 1885, the pioneer figure was Muhamad Tharwi and the development was carried out by Atjeng Sulaeman who is a living figure of Ulin Barong Sekeloa. The aim of the research is to describe the Ulin Barong Sekeloa for the preservation of traditional art culture and the potential for quality Bandung City cultural tourism attractions, especially for improving the economy of artists after the Covid-19 pandemic. The method used is descriptive analytic by exploring the potential of the Ulin Barong Sekeloa attraction to become a Cultural Tourism Attraction in Bandung City. The results show that the community empowerment ecosystem has made Ulin Barong Sekeloa one of the Intangible Cultural Heritage of Bandung city still exists until today which has the potential to become a cultural tourism attraction which can become a quality cultural destination in Bandung City. The conclusion obtained is that the existence of Ulin Barong Sekeloa until now has been formed from the results of the adaptation of society to changing times as the spearhead of the conservation of Ulin Barong Sekeloa.