Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) merupakan program kesehatan berbasis komunitas yang menjadi ujung tombak deteksi dini penyakit tidak menular pada kelompok lanjut usia (lansia) di Indonesia. Namun, rata-rata partisipasi lansia dalam kegiatan Posbindu secara nasional hanya 47,51%—jauh di bawah target pemerintah. Rendahnya partisipasi lansia berdampak pada terlambatnya deteksi risiko PTM dan memburuknya kualitas hidup lansia. Berdasarkan data Survei Manifestasi Kesehatan Daerah (SMD) PKP 2026 di wilayah 5 dusun, terdapat 1.257 keluarga yang memiliki anggota lansia (63,2% dengan keluhan penyakit), namun keterlibatan aktif dalam Posbindu masih rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi lanjut usia dalam kegiatan Posbindu di wilayah 5 dusun wilayah kerja puskesmas Sukamanah Kabupaten Bandung Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional berbasis komunitas (community-based study). Populasi penelitian adalah seluruh lansia usia ≥60 tahun yang berdomisili di wilayah 5 dusun. Besar sampel sebanyak 257 lansia dipilih dengan teknik proportionate stratified random sampling. Variabel independen meliputi: pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dukungan kader, jarak ke Posbindu, status kesehatan, usia, jenis kelamin, dan pekerjaan. Variabel dependen adalah partisipasi aktif dalam kegiatan Posbindu. Instrumen menggunakan kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda (α = 0,05). Hasil Penelitian menunjukkan Partisipasi aktif lansia dalam Posbindu ditemukan sebesar 44,7% (n = 115). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan (p < 0,001; OR = 3,84), sikap (p < 0,001; OR = 3,21), dukungan keluarga (p < 0,001; OR = 4,67), dukungan kader (p = 0,001; OR = 3,05), jarak ke Posbindu (p = 0,003; OR = 2,41), dan status pekerjaan (p = 0,002; OR = 2,18) dengan partisipasi lansia. Analisis regresi logistik ganda menunjukkan dukungan keluarga merupakan faktor paling dominan (OR adjusted = 5,34; 95%CI 2,89–9,86; p < 0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa Dukungan keluarga, pengetahuan, sikap, dukungan kader, jarak ke Posbindu, dan status pekerjaan secara signifikan mempengaruhi partisipasi lansia dalam kegiatan Posbindu. Intervensi keperawatan komunitas yang mengintegrasikan pendekatan pemberdayaan keluarga, pelatihan kader, dan edukasi kesehatan lansia berbasis dusun direkomendasikan untuk meningkatkan partisipasi aktif lansia.