This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ners
Leila Ramadhani
Universitas Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Kesiapan Kebijakan Terhadap Pencegahan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah: Studi Komparatif Papua Barat Daya dan Sumatera Utara (SSGI 2024) Sari Laila Wahyuni; Sabarinah Sabarinah; Hilmi Friska; Leila Ramadhani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52505

Abstract

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian neonatal di Indonesia, dengan prevalensi nasional sekitar 6,5% dan variasi yang lebar antarprovinsi. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan Papua Barat Daya memiliki prevalensi BBLR tertinggi (9,3%), sedangkan Sumatera Utara terendah (3,3%). Penelitian ini bertujuan menganalisis kesenjangan kebijakan dan implementasi program pencegahan BBLR di kedua provinsi tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan dukungan data kuantitatif melalui comparative policy analysis. Data sekunder berasal dari dokumen kebijakan nasional dan daerah serta indikator SSGI 2024 (ANC, konsumsi tablet tambah darah, dan BBLR). Analisis dilakukan melalui policy content analysis yang mengacu pada kerangka policy cycle dan analisis deskriptif-komparatif indikator program. Hasil menunjukkan bahwa Sumatera Utara memiliki kerangka kebijakan KIA dan gizi yang lebih matang, capaian ANC K4 dan konsumsi tablet tambah darah yang lebih tinggi, serta proporsi kehamilan remaja dan jarak kehamilan pendek yang lebih rendah. Sebaliknya, Papua Barat Daya masih menghadapi keterbatasan regulasi operasional, kontinuitas layanan kehamilan yang lemah, dan risiko reproduksi yang lebih tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa ketimpangan BBLR merefleksikan perbedaan kesiapan kebijakan dan kapasitas tata kelola sistem kesehatan daerah, bukan sekadar faktor klinis atau perilaku individual.