Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Teacher Readiness Instrument for Culturally Responsive Teaching (CRT) in Papua Border Schools: Construct Validity, Reliability, and Measurement Invariance Aisyah Ali; Akhmad Kadir; Ria Ristiani
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 11 (2025): November
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i11.13029

Abstract

This study addressed the need to strengthen science literacy in the Indonesia–Papua New Guinea border region through Culturally Responsive Teaching (CRT) by developing and validating a context-appropriate teacher readiness instrument for indigenous communities. The instrument was specified as a multidimensional model encompassing pedagogical knowledge, efficacy, school contextual support, culturally responsive planning and materials, culturally responsive assessment, and community collaboration. A layered, cross-sectional validation was conducted: expert judgment for content validity, target-user assessment for face validity/readability, a limited pilot (approximately 30 respondents), and confirmatory factor analysis (CFA) on the main sample; measurement invariance (MI) across gender, years of service, and certification was tested sequentially. Content validity met predefined standards: all items achieved I-CVI ≥ .78 and S-CVI/Ave = .917; qualitative feedback prompted the alignment of terminology and local examples without altering construct coverage. Internal reliability was adequate (α and ω ≥ .70). CFA indicated acceptable fit; most loadings were ≥ .50; CR ≥ .70; AVE ≥ .50; and discriminant validity was satisfied. Measurement invariance was established up to the scalar level for gender and certification, and up to the metric level for years of service; comparisons of latent means by years of service therefore require a partial scalar approach based on the problematic indicators. A known-groups test showed a practically meaningful difference between certified and non-certified teachers (Cohen’s d ≈ 0.63; p < .05). Overall, the instrument is culturally adapted and empirically validated, enabling program evaluation and targeted professional development toward inclusive, culturally responsive science education.
Pinang Sebagai Alat Kontak Masyarakat Papua di Arso Swakarsa Kabupaten Keerom: Betels as a Contact Tool for Papuan Community in Arso Swakarsa, Keerom Regency Rahma Lutfianasari; Muhamad Yusuf; Suparto Iribaram; Rachmad Surya Muhandy; Akhmad Kadir
Jurnal Sosial Humaniora Vol. 16 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jsh.v16i2.13476

Abstract

Areca atau yang juga dikenal sebagai buah pinang, adalah salah satu tanaman yang memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat Papua. Penelitian dilakukan bertujuan untuk mengetahui ekstensi mengenai buah pinang yang digunakan sebagai alat kontak bagi masyarakat Papua di Arso Swakarsa, serta mengetahui ekstensi mengenai buah pinang yang dipandang mampu menjadi alat kontak bagi masyarakat setempat. Metode yang diterapkan pada penelitian “Pinang Sebagai Kontak Masyarakat Papua (Studi Kasus pada Masyarakat Papua di Arso Swakarsa Kabupaten Keerom)” menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini berfokus pada praktik konsumsi buah pinang pada masyarakat setempat. Penggunaan pinang menjadi kebiasaan yang digunakan sebagai kudapan dan simbol budaya yang menunjukkan betapa pentingnya pinang dalam kehidupan sehari-hari baik kalangan anak-anak hingga dewasa. Menggunakan pinang sebagai pembuka komunikasi, dapat menciptakan momen yang santai dan menyenangkan untuk berinteraksi dengan orang lain, memperkuat ikatan sosial, dan kebersamaan serta memperluas jaringan sosial. Selain itu adanya para-para pinang masyarakat Papua di Arso Swakarsa dapat menjadikannya sebuah media bertukar informasi, saling berbagi cerita serta saling berdiskusi, saling mendengarkan dan memberika perhatian satu sama lain. Menciptakan rasa kebersamaan dan persaudaraan yang kuat dalam terjalinnya ikatan sosial. Namun demikian para-para pinang mulai mengalami pergeseran akibat dari kesibukan masyarakat yang menimbulkan pola individualis dalam masyarakat.