Latar Belakang : Bencana gempa bumi di Cianjur menjadi kejadian bencana yang traumatik bagi korban sehingga dapat menimbulkan dampak psikologis, yaitu gangguan kualitas tidur. Terganggunya kualitas tidur dapat mengganggu aktivitas di siang hari dan mengakibatkan penurunan kesehatan individu. Metode : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas tidur korban bencana gempa bumi di Cianjur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 154 orang korban bencana gempa bumi di wilayah Desa Mangunkerta, Cianjur. Sampel yang diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kusioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis univariat digunakan dengan hasil distribusi dan frekuensi. Hasil didapat bahwa korban bencana gempa bumi di Desa Mangunkerta, Cianjur memiliki kualitas tidur dalam kategori buruk (65,7%). Global PSQI rata-rata 8,17 dengan dimensi tidur yang paling berkontribusi dalam masalah ini adalah dimensi gangguan tidur yang dialami satu atau dua kali dalam seminggu. Adapun pada dimensi tidur lainnya, yaitu kualitas tidur subjektif dengan responden merasa kualitas tidur yang sangat baik, latensi tidur dengan tidak dapat tertidur dalam waktu 30 menit kurang dari sekali dalam seminggu, durasi tidur selama 6-7 jam setiap harinya, efisiensi tidur 74-84%, rata-rata responden mengkonsumsi obat kurang dari sekali dalam seminggu, dan sering terjadi disfungsi siang hari. Kesimpulan : gambaran kualitas tidur pada korban bencana gempa bumi Cianjur di Desa Mangunkerta dalam kategori buruk. Penelitian selanjutnya dapat meneliti lebih lanjut mengenai hal yang dapat mengatasi gangguan pada tidur yang dapat berpengaruh terhadap kualitas tidur korban bencana.