Masalah kesehatan mental lebih banyak ditemukan pada komunitas Tuli dibandingkan populasi dengar, namun banyak kebutuhan belum terpenuhi akibat keterbatasan pengetahuan kesehatan mental di kalangan Tuli serta kurangnya pemahaman tentang bahasa dan budaya Tuli di kalangan profesional kesehatan mental dengar. Pelatihan bersama berbasis komunitas dilakukan di Jakarta, Indonesia, dengan melibatkan 18 pemimpin Tuli serta 13 ahli (psikolog dan psikiater) untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi dalam menjawab kebutuhan kesehatan mental Tuli. Metode pelatihan menggunakan edukasi kesehatan dengan pre/post-test tentang pengetahuan dan refleksi diri, skrining kesehatan mental peserta Tuli, dan diskusi bersama bertema kesehatan mental. Data dikumpulkan melalui Self-Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20), diskusi kelompok Tuli–dengar, serta tes pengetahuan dan refleksi diri pra dan pascapelatihan. Hasil menunjukkan bahwa 77% pemimpin Tuli terindikasi memiliki masalah kesehatan mental dan 32% melaporkan ide bunuh diri. Diskusi menyoroti tema antara lain kebutuhan mendesak akan layanan kesehatan mental yang aksesibel, program dukungan sebaya, dan kebijakan layanan kesehatan yang inklusif. Pascapelatihan, terdapat perbaikan rata-rata skor pengetahuan (4% Tuli, 43,65% profesional), dan pemahaman atau refleksi diri antara lain pemimpin Tuli terhadap gejala kesehatan mental meningkat dari 65% menjadi 90%, sementara kesadaran profesional tentang pentingnya bahasa dan budaya Tuli dalam konsultasi meningkat dari 75% menjadi 92%. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan bersama berbasis komunitas bagi pemimpin Tuli dan profesional kesehatan mental dapat secara efektif meningkatkan pengetahuan kesehatan mental, pemahaman bersama, dan kolaborasi lintas komunitas. Pendekatan ini penting untuk memperkuat dukungan sebaya, meningkatkan akses layanan, serta mendorong kebijakan layanan kesehatan yang inklusif dan lebih responsif terhadap kebutuhan kesehatan mental komunitas Tuli.