Reformasi birokrasi menuntut organisasi sektor publik meningkatkan kinerja aparatur secara berkelanjutan. Walaupun pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dipandang strategis, temuan riset yang beragam menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi tidak selalu berujung pada kinerja yang lebih baik, sehingga diperlukan penjelasan mekanisme psikologis yang menjembatani hubungan tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pelatihan dan pengembangan SDM terhadap kinerja pegawai dengan semangat kerja sebagai variabel mediasi pada Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif (explanatory research) dengan teknik purposive sampling pada ASN yang telah mengikuti program pelatihan dan/atau pengembangan SDM. Data dikumpulkan melalui kuesioner tertutup skala Likert lima poin dan dianalisis menggunakan PLS-SEM berbantuan SmartPLS dengan prosedur bootstrapping. Hasil menunjukkan pelatihan berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja (β=0,421; p<0,001) dan semangat kerja (β=0,572; p<0,001), sedangkan pengembangan SDM berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja (β=0,200; p=0,003) dan semangat kerja (β=0,390; p<0,001). Semangat kerja juga berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja (β=0,394; p<0,001). Uji mediasi menunjukkan semangat kerja memediasi secara parsial pengaruh pelatihan (β tidak langsung=0,225; p<0,001) dan pengembangan SDM (β tidak langsung=0,153; p=0,004) terhadap kinerja. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kinerja aparatur akan lebih optimal bila program pelatihan dan pengembangan SDM tidak hanya berorientasi pada kompetensi, tetapi juga dirancang untuk memperkuat semangat kerja pegawai.