Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERSEPSI SISWA TERHADAP KOMUNIKASI GURU DALAM MEMBANGUN LINGKUNGAN BELAJAR YANG INKLUSIF DI SMA YPI TUNAS BANGSA PALEMBANG Anggraini, Dewi; Putri, Jesi Idona Prasetia; Dahlia, Dahlia; Sapitri, Dwi Eliza; Sahara, Sahara; Mukhlas, Mukhlas
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 1 No. 4 (2025): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v1i4.1525

Abstract

  This study aims to describe students' perceptions of how teachers communicate in creating an inclusive learning environment at SMA YPI Tunas Bangsa Palembang. Inclusive education requires equal learning opportunities for all students, making teachers' communication skills a key factor in building a classroom atmosphere that is open, empathetic, and respectful of differences. This study uses a qualitative method with a descriptive approach through interviews and documentation of students from diverse backgrounds. The results show that teacher communication is considered effective, clear, and adaptive, with the use of easily understood language and examples relevant to everyday life. Teachers are also seen as patient, responsive, and non-judgmental, creating a learning environment that is comfortable, safe, and pressure-free. Two-way interaction between teachers and students has been proven to enhance motivation and active participation in learning.   Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan persepsi siswa mengenai cara guru berkomunikasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif di SMA YPI Tunas Bangsa Palembang. Pendidikan inklusif menuntut adanya kesempatan belajar yang adil bagi seluruh siswa, sehingga kemampuan komunikasi guru menjadi faktor utama dalam membangun suasana kelas yang terbuka, empatik, dan menghargai perbedaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui wawancara dan dokumentasi terhadap siswa yang memiliki latar belakang beragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi guru dianggap efektif, jelas, dan adaptif, dengan penggunaan bahasa yang mudah dimengerti serta contoh yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Guru juga dinilai sabar, responsif, dan tidak menghakimi, sehingga tercipta suasana belajar yang nyaman, aman, dan tanpa tekanan. Interaksi dua arah antara guru dan siswa terbukti meningkatkan motivasi serta partisipasi aktif dalam pembelajaran.
Analisis Taksonomi Kategori Linguistik dalam Tataran Wacana pada Caption Instagram @lambegosiip Anggraini, Dewi; Putri, Jesi Idona Prasetia; Suryadi, Edi
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 11 No 2 (2026)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v11i2.2883

Abstract

Perkembangan media sosial, khususnya Instagram, menjadikan caption sebagai bentuk wacana yang penting dalam penyampaian informasi dan pembentukan makna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan kohesi dan koherensi dalam caption Instagram @lambegosiip berdasarkan taksonomi kategori linguistik. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data berupa 13 caption yang diunggah pada 7–31 Maret 2026, dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan berbahasa didominasi oleh aspek kohesi, seperti penggunaan bahasa tidak baku, kesalahan ejaan, pengulangan leksikal yang tidak efektif, serta ketidakkonsistenan referensi. Adapun kesalahan koherensi meliputi hubungan antargagasan yang kurang logis dan alur informasi yang tidak sistematis. Hal ini menunjukkan bahwa keterpaduan wacana dalam caption belum optimal sehingga berpotensi mengganggu kejelasan pesan. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pemahaman kohesi dan koherensi dalam komunikasi digital guna meningkatkan efektivitas penyampaian informasi. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada kajian linguistik, khususnya analisis wacana digital, dengan menunjukkan bahwa bahasa media sosial bersifat fleksibel, namun tetap memerlukan keterpaduan wacana.